Sebenernya pingin belajar bikin novel. Tapi kehabisan ide, ya jadinya seperti ini xD
Semoga di lain kesempatan aku bisa jadi penulis novel yang bisa menerbitkan karya-karya yang bagus 0:) untuk sekarang fokus belajar dulu sebagai siswa.
Semoga di lain kesempatan aku bisa jadi penulis novel yang bisa menerbitkan karya-karya yang bagus 0:) untuk sekarang fokus belajar dulu sebagai siswa.
Chapter 1
Perjalanan
Menuju Kota
Allen dengan lesu berjalan melawati trotoar sepi
yang hanya ditemani oleh warna jingga langit sore hari. Ia baru saja pulang
dari sekolah karena ada beberapa tugas yang harus deselesaikannya. Tidak
biasanya ia pulang sampai sesore ini, di hari biasa ia selalu pulang ke rumah
setelah pelajaran di sekolahnya berakhir. Dia juga sama sekali belum makan
siang, itulah yang membuat Allen semakin lesu. Ia pun segera menuju ke sebuah
restoran yang jaraknya dekat dengan apartemennya, tempat dimana ia selalu bisa
makan dengan tenang.
Seperti biasa ia selalu duduk di meja paling pojok
yang dekat dengan jendela, kecuali jika seseorang telah duduk disana terlebih
dahulu. Restoran ini tidak terlalu besar, hanya terdapat enam meja yang
dilengkapi dengan empat kursi. Setelah pesananya datang ia dengan segera memakannya
karena sudah sangat lapar. Sesekali ia memandang ke luar jendela, dilihatnya
pemandangan indah laut biru yang diterangi cahaya jingga dari matahari sore dan
ditemani oleh kapal-kapal nelayan yang berlabuh di dermaga serta sebuah pulau
yang terlihat kecil diseberang laut yang ditumbuhi pepohonan hijau yang
rindang. Itulah sebab Allen memilih duduk disini, ia bisa memanjakan matanya
dengan panorama alam yang masih belum terjamah manusia. Setelah makan ia segera
berjalan menuju ke apartemennya.
Tinggal di apartemen, jauh dari orang tuanya dengan alasan
agar bisa hidup mandiri, tapi bukan itu sebenarnya tujuan dari Allen. Ia hanya
ingin hidup bebas dengan bermain game
tanpa harus dimarahi oleh ibunya dan juga agar dia dapat terus bermalas-malasan
setiap harinya. Tapi itu tidak membuat prestasinya di sekolah menurun, ia
selalu mendapat nilai dan peringkat yang bagus di sekolahnya. Sesampainya di
apartemen ia segera menuju ke kamar mandi. Memang apartemen ini tidak terlalu
mewah hanya terdapat empat ruangan diantaranya kamar tidur, ruang tamu, kamar
mandi dan juga dapur, namun Allen tidak pernah menggunakan dapurnya karena ia
tidak bisa memasak, sesekali ia mencoba untuk memasak tapi hasilnya selalu
gagal. Terdapat sepuluh kamar di apartemen ini semuanya terisi penuh oleh
orang-orang yang masih muda, Allen tinggal di kamar nomor tiga di lantai dua.
Setelah mandi ia segera menuju ke kamarnya, disana ia
segera menyalakan komputernya lalu memasang headphone
dan segeralah dia memainkan game
kesukaannya. Berjalan mengelilingi tempat-tempat baru, memecahkan misteri,
menyelesaikan misi, mengalahkan monster dan mendapatkan barang-barang langka,
itulah kesenangan yang ia dapat saat memainkan game Legend Fantasy ini.
Ia memainkan game ini hingga lupa
waktu, ia selalu menatap layar monitor dan menghiraukan jam dinding yang tergantung
di sebelah kanannya, inilah yang menyebabkan Allen selalu bermain hingga larut
malam. Namun hari ini ia bisa bermain dengan tenang karena sekarang hari sabtu,
hari yang selalu dinatikannya karena besok hari minggu dan ia bisa tidur
sepuasnya. Jarum jam sudah hampir menunjukan pukul setengah tiga, Allen pun
merasa mengantuk dan ia ingin segera mematikan komputernya dan segera tidur.
Tapi saat keluar dari game tiba-tiba Allen mendapatkan sebuah pesan, iapun
bingung setelah membaca pesan tersebut.
“Apakah kau ingin petualangan yang lebih seru?
Jika kau menginginkannya buka website dibawah ini.”
Dia
berpikir bahwa pesan itu hanya untuk lelucon, namun dia penasaran dengan halaman
website yang disediakan. Iapun segera
menuju ke website tersebut. Namun
ternyata benar itu hanya lelucon, setelah ia membuka website tersebut disana hanya terdapat halaman kosong berwarna
putih. Karena merasa membuang-buang waktu Allen segera mematikan komputernya
dan langsung membaringkan dirinya di tempat tidur.
Ketika tidur Allen mendapat sebuah
mimpi aneh, ia berdiri sendirian di tengah-tengah taman bunga yang luas dan
tiba-tiba sesorang gadis kecil muncul dihadapannya dan memberikan sebuah kotak
kecil berwarna perak, gadis itupun segera meninggalkannya. Allen segera membuka
kotak itu, di dalam kotak itu berisikan dua benda yaitu liontin dengan permata
berwarna biru yang ditengah permata itu berisi corak bulan sabit dan cincin
dengan permata berwarna jingga terang yang ditengah permata terdapat corak
seperti matahari yang bersinar. Ia pun segera memakai kedua benda tersebut dan
setelah ia memakainya ia terbangun dari mimpinya.
Ketika terbangun, Allen merasa heran
karena yang dilihatnya bukan kamar tidurnya yang nyaman melainkan ruang hampa.
Tidak ada apapun disini yang dilihatnya hanyalah warna putih yang tak berujung.
Ia tidak tau apa yang terjadi, tapi dia beranggapan bahwa dirinya masih
bermimpi, ia pun segera mencubit pipinya namun rasa sakitnya terasa. Ia bingung
dengan apa yang terjadi. “Selamat datang di Megnaveil.” Sebuah suara misterius
terdengar dari atas, Allen merasa terkejut karena suara itu terdengar keras dan
menggema. Setelah suara berakhir tiba-tiba ruang hampa berubah menjadi hamparan
padang rumput hijau yang luas dan muncul lah seseorang dari arah suara yang
terdengar yang sedang menghampiri Allen. Orang itu memakai pakaian serba putih
yang terlihat seperti pastur, tubuhnya pendek seperti anak laki-laki yang
berusia sebelas tahun dan wajahnya tidak terlihat, Allen hanya bisa melihat
mulutnya yang selalu tersenyum.
Allen merasa bingung dengan kejadian
yang menimpanya, setelah orang itu berada di hadapannya ia segera menanyai apa
yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia bisa berada di tempat ini. Kemudian
orang itu menjelaskan semuanya kepada Allen, orang aneh itu bernama Etarna, ia
menjelaskan saat dirinya mengirim surat undangan berupa pesan kepada Allen dan
dari sanalah kenapa Allen bisa berada di tempat ini. Dia juga mengatakan bahwa
jiwa Allen akan terus berada di dunia ini dan tubuhnya akan tetap tertidur di
tempat tidurnya yang nyaman. “Apa kau bercanda? bagaimana mungkin itu bisa
terjadi, aku yakin aku masih bermimpi.“ berbicara dengan nada jengkel. Etarna
segera membalas “Baiklah jika kau tidak percaya, aku ada urusan mendadak jadi
selamat tinggal. Kau teruslah berjalanlah lurus kearah hutan mengikuti jalan
setapak, kau bisa menemukan kota jika kau berhasil melewati hutan. Jika kau
lapar gunakanlah alat yang kuberikan di liontinmu.” Ia pun segera terbang
meninggalkan Allen dan menghilang di udara. “Liontin?” ia segera menoleh
kebawah dan ia terkejut melihat dirinya mengenakan liontin yang sama seperti
yang dipakainya saat mimpi serta cincin yang sama di telunjuk tangan kanannya.
Liontin biru itu bersinar dan karena
penasaran ia segera menyentuhnya, ia terkejut saat sesudah menyentuh liontin
itu. Sebuah layar hologram berwarna biru muda tiba-tiba muncul di hadapannya ,
hologram itu berbentuk seperti papan catur dan berukuran sama seperti papan
catur, lengkap dengan jumlah enam puluh empat kotak kecil dan di empat kotak
pertama terdapat benda yang sudah terisi oleh beberapa barang, mungkin itu
barang yang dikatakan oleh Etarna. Hologram itu selalu mengikuti arah kepala
Allen kemanapun ia menggerakan kepalanya, ia pun mencoba menyentuh salah satu
kotak yang berisi benda dan saat ia menyentuhnya sebuah kotak dengan ukuran
mungkin sama dengan sembilan kotak kecil muncul di sebelah kanannya, kotak itu
berisikan informasi tentang barang yang disentuh oleh Allen, keempat barang
yang diperolehnya dari Etarna adalah korek api, pisau, kendi labu untuk menyimpan
air dan sebuah tenda. Setelah itu saat ia menyentuh kembali liontinnya layar
hologram itu mengghilang dan akan muncul bila ia menyentuhnya kembali.
Kemudian ia mengingat perkataan
Etarna bahwa dia harus berjalan terus lurus kearah hutan agar dapat menuju ke
kota, segeralah ia pergi menuju ke hutan di depannya, ia berjalan melalui jalan
setapak di hutan. Hutan ini tidak terlalu lebat, cahaya matahari masih bisa menembusnya.
Allen melihat ke sekelilingnya dengan penuh rasa takjub karena ia belum pernah
sama sekali masuk ke dalam hutan, hutan yang ditumbuhi banyak tumbuhan hijau
sama seperti hutan pada umumnya. Ditengah perjalanan ia mendengar suara sungai
yang berasal dari arah depan, segera ia mempercepat langkahnya untuk menuju ke
sumber suara tersebut karena merasa sedikit haus. Saat sampai ia melihat sebuah
sungai yang lebar namun dangkal yang arusnya mengalir dengan tenang menuju
kearah kanan dirinya, sungai itu tampak jernih bagai kristal ia bisa melihat
ikan-ikan kecil yang sedang berenang dengan jelas. Ia pun mengambil air
menggunakan kedua tangannya dan segera meminumnya. Lalu ia teringat bahwa ia
memiliki kendi labu di liontinnya, ia segera menyentuh liontinnya dan kemudian
mucul layar hologram di depannya. Namun sekarang terdapat kotak tambahan yang
terletak di sebelah kiri, bentuknya persegi yang ukurannya sama dengan sembilan
kotak kecil. Pada kotak baru itu di bagian atasnya terlihat hit point bar yang berwarna merah yang
panjangnya seukuran dengan kotak tersebut dan di tengah kotak terdapat sebuah
ikon yang berbentuk seperti tubuh manusia yang berwarna kelabu, kemudian Allen
beranggapan bahwa kotak baru itu menggambarkan keadaan tubuhnya.
Lalu ia berpikir bagaimana caranya mengeluarkan
barang-barang yang ada di dalam liontinnya, ia kemudian mencoba menyentuh kendi
labu yang ada pada kotak nomor tiga, namun saat ia menyentuhnya hanya kotak
tambahan muncul di sebelah kanan yang menjelaskan apa benda yang disentuhnya, lalu
ia mencoba menyentuh benda itu untuk kedua kalinya namun tidak ada yang terjadi.
Setelah berpikir lama ia segera mencoba untuk menyentuh benda itu dan
menekannya sedikit lebih lama dan tiba-tiba layar hologram yang ada di depannya
menghilang seketika setelah itu di depannya muncul kendi labu yang bentuknya
sama persis seperti yang ada di layar hologram, benda itu melayang didepannya.
Allen sedikit terkejut namun ia segera menghiraukannya, ia langsung mengambil
kendi labu itu dan segera mengisikannya dengan air.
Setelah terisi penuh ia bingung bagaimana caranya
untuk mengembalikan benda tersebut ke dalam liontin, ia mencoba berbagai cara
untuk mengembalikan benda itu ke dalam liontin seperti mencoba melempar benda
itu keatas dan menangkapnya kembali dengan tangannya, mengayunkan benda
tersebut dan tidak ada yang berhasil. Ia jengkel karena tidak bisa menemukan
cara untuk mengembalikan kendi labu itu. Kemudian ia mencoba untuk mendekatkan
benda itu ke dekat liontin namun tetap tidak berhasil, ia tetap mendekatkan
benda itu ke lontin dan tangan kirinya menyentuh liontin, seketika benda itu
menghilang dan berubah menjadi butiran-butiran kecil yang berkilau,
butiran-butiran kecil itu bergerak menuju ke liontin dan Allen berhasil
menemukan cara untuk mengembalikan benda ke dalam liontin. Setelah itu ia
segera bergegas melanjutkan perjalanan. Ia berpikir bahwa dunia ini mirip
seperti sebuah sebuah game, game petualangan yang mirip dengan beberapa game
yang ia mainkan.
Allen terus melanjutkan perjalanan namun kini hari
sudah semakin sore. Ia merasa lapar karena belum makan sama sekali, ia hanya
minum beberapa teguk air saja. Ia tidak tau makanan apa saja yang dapat ia
makan di dunia ini, yang dilihatnya dari tadi hanyalah dedaunan hijau dari
pohon dan tumbuhan di sekitar perjalanannya. Ia berpikir untuk beristirahat
hari ini, kakinya sudah lelah berjalan dan hari sudah hampir malam, namun
beristirahat di tengah hutan bukanlah ide yang bagus pikirnya, mungkin saja ada
hewan buas yang berkeliaran di sekitarnya saat malam. Dengan penuh keraguan ia
berusaha mencari tempat yang sedikit lebih luas untuk membangun sebuah tenda,
ia juga mengambil beberapa kayu dan ranting pohon yang sudah kering di tanah
dan langsung memasukannya ke dalam liontin untuk digunakannya nanti membuat api
unggun. Setelah berjalan cukup lama melewati jalan setapak, akhir ia menemukan
lahan yang cukup untuk bisa membangun tenda. Padang rumput yang tidak terlalu
luas mungkin seukuran dengan lapangan tenis, pepohonan hanya mengelilingi area
tersebut dan tidak berada di sekitar area sehingga ia bisa melihat langit
diatasnya dengan jelas dan dipercantik dengan adanya sebuah kolam kecil yang
airnya sangat jernih yang berada pojok kanan sebelah barat arah matahari
terbenam.
Untung saja Allen pernah membuat api unggun
sebelumnya, jadi dia tidak perlu kerepotan untuk membuatnya. Setelah api unggun
menyala ia kebingungan untuk memakan apa, ia pun segera bergegas menuju ke
dalam hutan untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Di sekitar hutan ia melihat
beberapa ayam hutan yang sedang berkeliaran, namun ia tak bisa menangkapnya karena
berlari cukup cepat. Allen yang kelelahan pun segera menghiraukan ayam-ayam
itu, ia terus berjalan hingga menemukan tanaman yang dikenalnya. Kentang, ia
pernah dulu ikut membantu kakenya memanen kentang di kampung halamannya, ia
dapat mengenalinya karena bentuk daunnya. Segera lah ia mencabut kentang itu
dan mendapat enam buah kentang yang ukurannya cukup besar, segeralah ia memasukan
kentang-kentang itu kedalam liontinnya. Karena dirasa sudah cukup ia segera
kembali menuju ke tempat semula.
Allen tidak tau caranya memasak, jadi ia hanya
melemparkan kentang-kentang itu ke bara api. Sambil menunggu kentang-kentang
itu masak, ia pergi ke kolam didekatnya dan mengambil minum. Air di kolam itu
sangat jernih, ia bisa melihat pantulan wajahnya dengan jelas walau saat malam,
bagaikan cermin yang terbuat dari kristal. Ia mengambil kentang-kentang itu
dari api unggun dan meletakannya pada daun yang lebar. Ia menunggu sampai
kentang-kentang itu tidak terlalu panas dan langsung memakannya. Rasanya
hambar, tapi Allen terus memakannya karena sudah sangat lapar. Karena ukurannya
yang cukup besar ia hanya menghabiskan empat kentang saja karena kekenyangan.
Setelah makan kemudia ia berencana untuk membangun
tenda dan segera tidur, namun belum sempat mengeluarkan tenda kepalanya menjadi
pusing dan perutnya menjadi sakit. Dia mencoba untuk duduk sejenak sambil
memegangi bagian yang sakit. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi, tapi
segera dia menyentuh liontinnya untuk mengeluarkan tenda. Ia sangat terkejut
setelah layar hologram itu muncul dihadapannya. Pada kotak sebelah kiri, kotak
yang menerangkan keadaan tubuhnya, terlihat hit
point bar yang sebula penuh kini hanya tinggal setengah, dan juga ikon
tubuh manusia yang awalnya berwarna kelabu kini berubah menjadi warna ungu. Ia
bingung dengan apa yang terjadi, sementara itu hit pointnya terus berkurang,
saat melihat ikon tubuh manusia yang berwarna ungu ia kemudian beranggapan bahwa
dirinya sedang keracunan. Lalu ia panik karena hit pointnya terus berkurang. Ia segera mencari cara untuk bisa
menghilangkan keracunannya. Ia langsung berlarian ke sekitarnya dan
mencari-cari sesuatu yang dapat menghilangkannya namun ia tidak tau apa yang
akan dicari. Panik karena tidak bisa menemukan apa-apa ia pun pasrah, ia
terdiam dan segera menyentuh liontinnya dan dilihatnya hit pointnya yang hampir sudah habis, ia pasrah sambil menatapi hit pointnya yang terus berkurang.
Hingga saat hit pointnya habis
matanya mulai berkunang-kunang, ia kehilangan kesadaran lalu terjatuh ke tanah
dan semuanya menjadi gelap.
Saat Allen membuka matanya ia menyadari bahwa
dirinya sedang terbring di tanah dan saat menoleh ke arah kanan ia melihat
sesosok orang yang ia kenal. Orang itu adalah Etarna, Etarna duduk bersila
sambil memandangi arah depan dan disebelahnya terdapat sebuah benda yang
melayang disekitar bahu kanannya dengan bentuk yang bulat seperti bola yang
digunakan oleh peramal yang mengeluarkan cahaya terang yang cukup untuk menerangi
malam yang gelap gulita ini. Segera Allen bangun dan menanyakan keanehan yang
dialaminya.
“Tadi
hit point ku habis dan apa yang
terjadi?” bertanya dengan rasa penasaran sekaligus bingung.
“Tadi kau
terkena racun dari kentang yang terlalu lama di dalam tanah, lalu kau mati dan
bangkit lagi ke tempat ini”
Allen baru saja menyadari bahwa
ini merupakan tempat awal saat pertama kali ia ke tempat ini, di hamparan
padang rumput yang luas tempat pertama kali ia bertemu dengan Etarna.
“Mati
dan bangkit? Apakah sama seperti yang terjadi saat aku bermain game?”
“Iya
benar, petualangan yang seru seperti game, itulah yang kumaksud dalam surat
undangan yang aku kirim padamu. Selamat datang di Megnaveil!”
“Jadi
sekarang apa yang harus aku lakukan, aku kembali lagi ke tempat awal.”
“Kau
harus mengulangi kembai petualanganmu, tugasmu adalah menuju ke kota terdekat
kau ingat?”
“Apa?
Apa kau serius, perjalanan itu sungguh melelahkan!” berteriak kehadapan Etarna
“Ya
setidaknya kau harus berusaha, sama seperti yang kau lakukan di game yang kau
mainkan. Terimalah ini, mungkin ini dapat membantu.” Ia memberikan beberapa
barang kepada Allen.
“Oh iya, kau
tidak perlu menggunakan kedua tanganmu untuk memasukan benda kedalam liontin,
cukup dengan menyentuh benda yang kau pegang tersebut dengan liontin dan benda
itu akan segera masuk dengan sendirinya.”
“Hey,
bagaimana kau bisa tau aku melalukan itu?”
“Maaf
tapi sepertinya aku punya urusan mendadak, aku harus pergi sekarang. Selamat
tinggal.” Ia segera terbang dan menggilang.
Allen jengkel dengan sifat Etarna, ia terus
menggerutu setelah apa yang terjadi, ia juga merasa kesal karena perjalanannya
sia-sia, ia harus kembali ketempat awal dang mengulangi perjalanannya kembali. Tapi
setidaknya sekarang ia merasa seidikit terbantu karena diberikan beberapa
barang yang cukup berguna, ia diberikan pedang pendek untuk berjaga-jaga melawan
hewan berbahaya, tombak yang bisa digunakan untuk berjaga-jaga dan juga untuk
memburu hewan seperti ayam hutan yang sulit didapatkannya tadi, sepuluh buah
beri manis yang warnanya merah dan seukuran dengan leci yang berguna untuk
menghilangkan keracunan dan juga ia diberi light orb, benda yang sama digunakan
oleh Etarna, benda bulat yang bentuknya seperti bola peramal yang berguna untuk
menerangi kegelapan.
Allen segera ingin mendirikan tenda namun ia bingung
bagaimana cara untuk membangun tenda karena ia sama sekali belum pernah pergi berkemah.
Namun dengan waktu yang cukup lama ia berusaha sekuat tenaga mencoba dan
mencoba hingga akhirnya tenda itu terbangun dengan sempurna. Ia segera membawa
light orb masuk bersamanya setelah tadi digunakan untuk menerangi kegelapan di
luar saat mendirikan tenda. Saat membaringkan tubuhnya ia merasa senang karena
bisa beristirahat dengan tenang sekarang, setelah perjalanan yang melelahkan
sekarang ia bisa tidur dengan santai sambil ditemani suara merdu jangkrik disekitarnya.
Ya walaupun harus mengulang kembali perjalanannya dia tetap senang karena bisa
beristirahat sekarang.
Kini matahari sudah terbit, sudah saatnya bagi Allen
untuk bangun. Di pagi hari seperti ini biasanya Allen memulai harinya dengan
sarapan, sereal yang ditambah dengan susu merupakan makanan favoritnya saat
pagi hari. Namun dimana ia bisa mendapat sereal di hutan seperti ini, karena
lapar ia segera ke hutan untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Ia segera
mengeluarkan tombak dari liontinnya dan langsung menuju ke dalam hutan.
Sekarang ia menemukan makanan yang lebih banyak dari
sebelumnya, tidak hanya kentang seperti yang didapatnya tadi malam. Ia
menemukan berbagai makanan seperti apel, pisang, rebung dan bahkan menemukan
banyak beri manis yang sama seperti yang diberikan Etarna, ia mencoba memakan
beri manis itu karena tidak ingin dikerjai oleh Etarna dan memang rasanya manis
dan teksturnya lembut seperti stroberi serta memiliki air yang banyak. Setelah
memakannya ia segera mengecek tubuhnya dan tidak terjadi efek yang buruk.
Sesekali ia melihat tanaman kentang saat berjalan di hutan, namun ia tidak
mengambilnya karena masih trauma dengan kejadian kemarin malam.
Dari tadi ia belum menemukan makanan yang dapat
memuaskannya. Ia terus berjalan dan pada akhirnya ia menemukan ayam hutan.
Sekarang ia tidak akan mengejar ayam itu karena ia tau bahwa ayam itu bisa
berlari dengan cepat. Sekarang ia sudah dalam posisi siap untuk melempar
tombaknya, ia menunggu momen yang pas saat ayam itu berhenti bergerak dan
melepaskan tombaknya. Dalam jarak kurang lebih tiga meter saat ayam itu
berhenti ia melepaskan tombaknya, namun sayang ia meleset dan ayam itu lari
meninggalkannya. Allen merasa kesal dan langsung mengambil tombak yang sedang
menancap di tanah dan langsung berjalan pergi menuju arah ayam tersebut berlari.
Saat ayam itu terlihat ia menghentikan langkahnya
dan langsung mengambil posisi bersiap untuk melempar tombaknya. Lalu saat ayam
terdiam ia segera melemparkan tombaknya dan kali ini tombak tersebut berhasil
mengenai ayam itu, sebuah balas dendam yang manis. Tapi tiba-tiba ayam yang
dikenainya itu berubah menjadi butiran-butiran kecil yang bercahaya sama
seperti saat mengembalikan barang kedalam liontin, butiran-butiran menuju ke
liontinnya dan menghilang. Saat itu Allen langsung menyentuh liontinnya dan
melihat ke layar hologram, sebuah benda bertambah ke salah satu kotak, benda
itu adalah paha ayam, ia mendapat dua buah paha ayam saat mengalahkan ayam
hutan tadi. Ia tidak merasa heran lagi dengan kejadian-kejadian aneh yang
terjadi. Sekarang ia melanjutkan untuk berburu ayam hutan, namun hanya tiga
ayam hutan yang dapat diburunya dan sekarang ia mendapat delapan buah paha
ayam.
Api unggun sudah dinyalakan, Allen segera menusukan
tiga buah paha ayam pada sebuah ranting tebal yang sudah diruncingkan, ia tidak
memakan delapan paha ayam sekaligus karena itu akan membuatnya kekenyangan dan
sekaligus untuk cadangan persediaan nanti, lalu ia memanggangnya diatas bara
api sambil memutar-mutarkannya agar matang dengan merata. Setelah matang ia
meletakan paha ayam itu ke daun yang lebar sambil menunggu sampai sedikit lebih
dingin, paha ayam ini ukurannya sedikit lebih kecil dari paha ayam yang dijual
di berbagai restoran cepat saji. Ia langsung memakannya ketika mulai mendingin,
rasanya dagingnya sama seperti ayam pada umumnya namun teksturnya sedikit lebih
keras, walau sedikit gosong tapi rasanya tetap enak. Setelah habis ia langsung
memakan apel dan pisang yang ia dapat sebagai pencuci mulut, ia tidak bisa
mengolah rebung jadi ia hanya menyimpannya saja dan tidak memakannya.
Allen segera bergegas untuk untuk melanjutkan
perjalanannya, ia merapikan barang-barangnya dan memasukannya ke liontin. Ia
masuk kedalam hutan melalui jalan setapak yang kemarin ia lalui, semua tampak
sama dan tidak ada yang berubah, dedaunan hijau pohon yang tampak sama
membuatnya bosan setelah kemarin seharian berjalan di hutan. Hingga saat ia
sampai didepan sungai ia mulai berpikir untuk mandi, dia merasa gerah karena
kemarin dia berkeringat saat berjalan di hutan. Dia mengikuti arah darimana
datangnya sungai dan berharap menemukan tempat yang lebih dalam untuk berenang.
Walau tidak menemukan tempat yang dalam tapi ini
lebih dari cukup, ia menemukan sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi,
mungkin ukurannya dua kali dari tinggi tubuhnya, alirannya airnya tenang yang
membuatnya terlihat nyaman untuk mandi disana. Allen segera melepas bajunya dan
menaruhnya di bebatuan yang berada didekatnya. Ia memejamkan matanya dan
langsung menuju ke aliran air terjun. Ia merasakan tubuhnya seperti disurga,
kulitnya terasa dimanjakan dengan kesegaran dari air yang sangat jernih ini.
Saat membuka matanya ia merasa terkejut karena didepannya terlihat sebuah
lubang gua yang ukurannya tidak terlalu besar, lubang ini berada dibalik air
terjun. Setelah dirasa cukup ia segera keluar dari aliran air terjun itu, setelah
mengeringkan tubuhnya dibawah sinar matahari ia langsung memakai pakaiannya.
Dengan rasa penasaran yang besar ia ingin pergi
menuju kedalam gua yang berada dibalik air terjun itu. Untung saja terdapat
tempat yang tidak terkena aliran air terjun sehingga Allen bisa masuk kedalam
gua tanpa perlu dirinya kebasahan. Saat didalam ia tidak bisa melihat apa-apa,
disini sangat gelap hanya terlihat beberapa bagian dalam yang terkena sedikit
sinar matahari dari luar, untung saja Allen memiliki light orb yang dapat menerangi
gua ini. Tempat ini tidak terlalu besar, mungkin seukuran dengan bagasi mobil
yang muat untuk menyimpan sebuah mobil. Di dalam sini sangat indah, terlihat
ruangan yang digenagi air yang disekeliling ruangan terdapat beberapa kerang
sungai, ia pun segera memungutnya. Allen hanya memungut kerang yang berukuran
besar dan langsung dimasukan kedalam liontin. Disaat ia sedang mengambil kerang
tanpa disadari di depannya ia melihat sebuah bunga yang tumbuh diatas batu yang
ditumbuhi lumut, bentuknya seperti teratai namun lebih kecil dan berwarna biru
langit. Saat Allen memetik bungai itu tiba-tiba bunga itu berubah menjadi
butiran-butian kecil yang langsung menuju ke dalam liontinnya. Bunga itu
bernama Blumarnia, ia tidak tau itu bunga apa tapi bunga itu sangat indah.
Setelah itu ia langsung keluar dari dalam gua dan segera melanjutkan kembali
perjalanannya yang melelahkan.
Di tengah perjalanan Allen terkejut saat melihat seekor
rusa jantan sedang melintas dihadapannya, ukurannya besar dan memiliki tanduk
besar yang terlihat runcing, rusa itu melintas kearah kirinya. Allen segera
mengeluarkan tombak dan berjalan mengikuti rusa itu, ia mengendap-endap sambil
mengikuti arah rusa itu berjalan dari kejauhan. Saat rusa itu terdiam memakan
rumput, Allen segera melemparkan tombaknya. Namun sayang tombak tidak mengenai
badan rusa itu melainkan kaki kiri belakangnya, rusa itu terkejut dan segera
berlari terpincang-pincang dengan tombak yang masih menancap di kaki kiri
bagian belakangnya. Rusa itu belum mati dan larinya tidak terlalu kencang jadi
Allen berencana untuk memburunhya sekali lagi dengan pedang pendek yang
diberikan oleh Etarna, ia berlari dengan kencang menuju kearah rusa itu berlari
sambil memegang pedang pendek ditangan kanannya. Saat sudah dekat ia langsung
mengayunkan pedangnya ke badan rusa di bagian kiri namun rusa itu belum mati,
kemudian setelah dua kali ia mengayunkan kembali pedangnya ia berhasil membuat
rusa itu mati. Rusa itu hilang dan berubah menjadi butiran-butiran kecil yang
berkilau, sama seperti biasa. Dari hasil memburu rusa ia mendapat tiga buah
daging rusa, tanduk rusa, kulit rusa dan tombaknya langsung kembali kedalam
liontin, ia merasa tidak perlu berburu lagi karena danging rusa ukurannya cukup
besar dan mungkin satu daging cukup untuk sekali istirahat.
Sekarang hari sudah sore, warna langit sudah berubah
menjadi jingga. Allen berencana untuk beristirahat ditempat yang sama, tempat
dimana ia mati kemarin malam. Tampak ditengah tempat tersebut terdapat abu dari
bekas api unggun yang kemarin ia nyalakan, ia segera menyalakan api pada tempat
yang sama. Ia mencoba untuk memanggang satu daging rusa yang ia dapat. Daging
rusa rasanya berbeda dari daging lainnya walau teksturnya sedikit keras tapi
rasanya sangat nikmat, apalagi kalau dijadikan steak pasti akan terasa lebih
nikmat, begitu pikirnya. Saat selesai makan hari sudah mulai gelap, ia segera
menuju ke kolam untuk mencari air, ia mengeluarkan light orb untuk menerangi
jalannya, light orb akan selalu mengikuti tubuh si pemilik ketika mereka berjalan.
Setelah itu ia segera membangun tenda dan langsung berbaring, sebelum tidur ia
merasa merindukan momen saat bermain game di dalam kamarnya, ia rindu dengan
kenyamanan dan rasa senang saat ia memainkan game. Namun rasa kantuk tidak
dapat mengalahkan kerinduannya pada game, ia segera memajamkan matanya dan tertidur
dengan pulas, tidur memang pekerjaan yang paling menyenangkan yang ada di
seluruh dunia.
Allen sudah sarapan dengan daging ayam dan beberapa
kerang dan kini ia sedang bergegas melanjutkan perjalanannya. Namun saat
beberap langkah berjalan ia terkejut saat melihat seekor babi hutan
menghadangnya didepan, babi hutan yang berwarna hitam dengan ukuran tubuh yang normal
namun memiliki gading besar yang membuatnya terlihat menyeramkan. Babi itu
berlari menuju kearahnya, untung saja larinya sedikit pelan sehingga Allen bisa
dengan cepat menghindar. Namun babi itu kembali ingin menyerang Allen dan
dengan cepat ia bisa menhindarinya, ia tidak tau apa yang terjadi tapi
sepertinya dirinya harus bertarung melawannya. Allen dengan cepat mengambil
pedang pendek yang ada pada liontinnya dan bersiap-siap untuk menyerang. Ia
menunggu momen yang tepat untuk menyerang, yaitu pada saat babi itu menyerang
kearahnya kemudian ia menghindar dan menyerang tubuh babi itu, untung saja
gerakan babi ini lambat sehingga Allen bisa menyerangnya bertubi-tubi. Tapi
babi ini sangat kuat, Allen sudah mengayunkan pedangnya ke tubuh babi itu
bertubi-tubi namun babi itu belum mati juga. Hingga tiba saat Allen merasa
kelelahan ia mulai lengah, babi hutan itu berhasil menyeruduk Allen dengan
menggunakan gading besarnya. Ia terlempar jauh kebelakang, babi itu menyeruduk
pada bagian perutnya, ia belum pernah diseruduk oleh babi hutan sebelumnya,
rasanya sungguh sakit. Babi hutan itu dengan cepat berlari kearah Allen yang
sedang berbaring di tanah sambil menahan sakit, saat mendekat ia segera
menggulingkan tubuhnya kekanan sehingga ia bisa menghindari serangan babi hutan
itu, lalu ia segera bangkit dan berlari untuk menjauhkan diri dari babi itu
sambil menahan sakit. Ia langsung menyentuh liontinnya untuk melihat layar hologram,
dilihatnya pada kotak bagian kiri, hit
pointnya sudah berkurang walau tidak terlalu banyak, tanpa ragu lagi ia
bersiap untuk serangan selanjutnya. Sama seperti rencana sebelumnya ia akan
menyerang babi itu ketika ia menghindar dari serangannya, namun sekarang ia
akan lebih serius, sekarang ia mengayunkan pedangnya lebih cepat sehingga dapat
menyerang tubuh babi itu lebih banyak, awalnya ia menyerang hanya sebanyak dua
atau tiga kali namun sekarang serangannya bisa lebih dari lima kali. Berkat
usahanya babi hutan itu bisa dikalahkan lebih cepat. Allen sangat beruntung
karena bisa mendapat persediaan makanan lebih banyak, ia mendapat dua daging
babi yang berukuran sama seperti daging rusa namun lebih berlemak, ia juga
mendapat gading babi hutan serta kulitnya. Karena merasa kelelahan setelah
bertarung dengan sengit ia segera memulihkan dirinya dengan meminum air dan
memakan beberapa buah, sekarang hit
pointnya sudah kembali penuh dan tenaganya kembali pulih.
Siang ini sedikit berbeda dari hari sebelumnya,
matahari bersinar lebih terang dan suhu lebih panas. Allen merasa gerah,
dirinya serasa seperti berada di gurun pasir, ia menghemat persediaan air
dengan memakan buah yang mengandung banyak air seperti apel yang banyak
ditemukan di sepanjang perjalanan. Hari ini memang benar-benar panas, panas
dari sinar matahari sangat menyengat kekulit, sesekali Allen harus berteduh
dibawah pohon yang rindang untuk menhindar dari sengatan matahari. Pohon yang
tumbuh sudah tidak selebat dibanding tempat semula, sekarang Allen bisa dengan
jelas melihat langit biru yang cerah saat melewati jalan setapak, ia bisa
mengira bahwa kota sudah semakin dekat.
Namun tidak sesuai dengan dugaannya, pada saat sore
hari ia masih belum sampai di kota, ia merasa tidak senang karena
petualangannya yang melelahkan masih berlanjut entah itu sampai kapan. Dengan
berberat hati Allen memutuskan mencari tempat untuk beristirahat sama seperti
sebelumnya, ia mencari-cari tempat yang tepat karena tidak ingin beristirahat
di jalan setapak yang sempit, ia tidak bisa membangun tenda disana. Dan pada
akhirnya ia menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat, memang tempatnya
sedikit jauh dari jalan setapak tapi tempat ini memiliki pemandangan yang
sangat indah. Ia menemukan lahan kosong yang tidak ditumbuhi pohon namun dekat
dengan danau yang tampak memukau, disekitarnya juga terdapat banyak binatang
kecil yang sedang bermain di lahan yang dipenuhi rumput seperti tupai dan
kelinci, terdapat juga beberapa kunang-kunang yang sedang berterbangan di
tepian danau yang tenang, dengan kedamaian yang dilihat ia memutuskan untuk
beristirahat di tempat ini karena dilihat cukup aman.
Aroma daging yang dipanggang menggoda hewan-hewan
kecil mendekat kearahnya, tuntu saja Allen tidak akan memberikan mereka daging
sedikit pun karena pasti mereka tidak menyukainya. Hewan-hewan kecil itu
berkumpul mengerumuninya sambil memandanginya makan, ia tidak tahan oleh
kelucuannya. Allen memang sangat mencintai binatang apalagi dengan tubuh mungil
yang lucu, ia merasa tidak tega ketika saat sedang memburu hewan yang ditemui
sebelumnya, tapi untuk bertahan hidup apapun akan dilakukannya walau dengan
berat hati membunuh hewan-hewan tersebut. Ia merasa tidak tahan ingin meraba
bulu mereka yang tampak halus, tapi ketika tangannya ingin menyentuh tubuh
mereka, semuanya pergi menjauh namun hewan-hewan itu masih tetap berkerumun
disekitarnya. Allen segera memberi makan mereka, ia memberikan buah-buahan yang
lezat kepada kelinci dan biji pohon ek yang diambil disekitarnya kepada tupai,
mereka sangat menyukainya, dan seketika Allen dapat dengan mudah menyentuh bulu
mereka yang halus walau hanya beberapa saat saja. Allen semakin terpesona saat
memandang kearah danau, disana terlihat banyak kunang-kunang yang terbang berkilauan,
ia mencoba mendekat dengan membawa sehelai daun ilalang yang ia petik ditepian
danau. Ia membasahi daun tersebut dengan air danau dan ia segera berdiri sambil
memegangi daun yang basah tersebut. Lalu beberapa kunang-kunang hinggap di daun
tersebut untuk mencari minum, ia bisa melihat kunang-kunang itu mengedipkan
cahaya yang indah dari dekat, semakin lama kunang-kunang yang datang semakin
banyak. Allen merasa bernostalgia karena dulu saat kecil ia sering pergi ke
rawa-rawa di dekat rumahnya dan bermain dengan kunang-kunang saat liburan musim
panas tiba.
Saat pagi tiba suasana di tempat ini sangat sepi,
tidak ada hewan-hewan kecil yang berkeliaran, mungkin mereka sedang tertidur
didalam hutan, serta tempat ini juga diselimuti oleh kabut tipis. Seperti biasa
Allen mulai menyalakan api unggun untuk memasak sarapannya, ia memanggan
beberapa paha ayam dan kerang sungai yang masih tersisa, ia merasa harus mulai
berburu lagi karena yang tersisa hanya beberapa daging rusa dan babi. Kini
kabut sudah mulai menghilang, suhu sudah mulai menghangat dan hewan-hewan sudah
mulai bermunculan. Sama seperti biasa Allen memberikan beberapa makanan kepada
hewan-hewan lucu tersebut, saat sudah merasa puas ia segera menuju ke danau
untuk mengambil minum dan ingin segera bergegas melanjutkan perjalanan. Namun
saat Allen menyentuh air danau tersebut ia terkejut, air itu tidak terasa sejuk
seperti kemarin malam melainkan hangat. Suhu hangat dari air danau ini menggodanya
untuk berenang disana, namun ia merasa ragu karena tidak tau bagaimana kejadian
aneh itu terjadi. Setelah berpikir panjang ia memutuskan untuk mencoba seteguk
air dari danau itu, setelah ia mencoba tidak ada efek buruk yang terjadi dan
rasanya sama seperti air pada biasanya. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera
membuka pakaiannya dan segera berenang di danau ajaib itu.
Danau ini tidak terlalu dalam dan tidak terlalu
luas, di dasar danau terlihat banyak tumbuhan air yang tumbuh dengan subur,
ikan-ikan berenang dengan gembira di danau ini. Yang paling ditakuti oleh Allen
adalah monster air atau ikan buas yang bisa saja menyerang dirinya, namun itu
semua tidak ada di danau ini, disini sangat aman dan nyaman bahkan Allen bisa
dengan santai melakukan banyak gaya saat berenang disini. Disini ia juga bisa
melihat beberapa hewan, Allen melihat seekor kura-kura besar di atas bebatuan
didekat danau yang sedang berjemur dibawah sinar matahari pagi, ia mencoba
mendekatinya namun sayang ia segera menceburkan diri ke air dan meninggalkannya
serta ia juga melihat segerombolan burung bangau yang sedang mencari ikan di tepian
danau. Tempat ini memang indah, tidak hanya pada sore hari saja tapi pada pagi
hari juga ia bisa melihat pemandangan yang memukau, Allen akan selalu
merindukan tempat ini saat ia tiba di kota nanti.
Hari ini juga sama seperti kemarin, sinar matahari
yang panas sangat menyengat di kulit. Untung saja Allen sudah menyiapkan
persediaan air dan buah yang banyak untuk hal ini. Ia sekarang bisa merasakan
bahwa kota sudah semakin dekat dikarenakan ia melihat beberapa bangunan yang
dibuat manusia, seperti beberapa jembatan kayu yang dibangun diatas sungai yang
mengalir cukup deras serta beberapa patung-patung kecil yang terbuat dari batu
yang memiliki aneka ragam bentuk yang tersebar disepanjang pinggir jalan
setapak, ia yakin bahwa bangunan itu dibuat oleh manusia karena terlihat begitu
rapi. Saat diperjalanan Allen dikejutkan oleh seekor burung yang terbang
diatasnya, itu bukan burung biasa, burung itu tampak seperti merak namun
ukurannya lebih besar, warnanya bulunya putih yang dipadu sedikit warna biru
muda, ekornya tampak lebih pendek dibanding burung merak tapi sayapnya lebih
lebar yang memungkinkan burung itu dapat terbang di udara. Burung itu terbang
dengan sangat elegan bagaikan awan yang melintas dilangit, burung itu terbang
rendah sehingga Allen bisa dengan jelas melihat kecantikannya, pandangan
matanya tidak bisa lepas dari keindahan burung itu. Ketika burung itu sudah
tidak terlihat Allen kembali melanjutkan perjalanannya, saat berjalan beberapa
langkah Allen melihat sebuah benda berkilau yang jatuh ketanah, ia segera
berlari menuju kearah tempat benda itu jatuh. Allen segera mengambil benda
berkilau itu, tapi benda tersebut bergerak masuk ke liontin dengan sendirinya
saat ia memegangnya, dengan rasa penasaran Allen segera mengeluarkan benda
tersebut. Benda itu adalah bulu Skyvescorus, mungkin itu nama burung indah
tadi, bentuknya seperti bulu angsa namun lebih besar, berwarna putih dengan
paduan biru muda di bagian ujungnya dan akan berkilau indah seperti permata
jika bulu ini terkena sinar matahati. Allen merasa beruntung karena mendapat
sebuah benda yang indah ini.
Belum lama berjalan saat Allen tiba di lapangan
terbuka yang berada di tengah hutan, ia melihat monster aneh muncul dari sebuah
lubang yang ukurannya sama dengan tubuh monster itu sendiri, ia merasa bahwa
dirinya sedang dalam bahaya. Tubuh monster aneh itu lebih besar dari babi hutan
yang pernah dihadapi sebelumnya, bentuk tubuhnya seperti kadal dengan bentuk
gigi seperti buaya, tubuhnya dipenuhi sisik yang berwarna hijau seperti warna
daun serta pada ujung ekornya terdapat sebuah bunga yang terlihat kuncup dan
saat mekar akan berbentuk seperti bunga teratai yang berwarna merah darah. Monster
itu mengeluarkan suara geraman kearahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh, Allen
sudah menyiapkan dirinya untuk bertarung melawan monster aneh itu, ia
mengeluarkan pedang pendek dari liontin dan memegangnya dengan kedua tangannya.
Untung saja tempat bertarung ini cukup luas sehingga
ia bisa bergerak dengan bebas disini. Sekarang ia tidak akan bertarung
menggunakan taktik yang sama seperti saat melawan babi hutan sebelumnya karena
gerakan monster ini lebih lincah. Monster itu terus mengejarnya tanpa henti,
tapi saat monster itu lelah ia akan terdiam selama lima detik dan saat itulah
Allen akan menyerangnya bertubi-tubi dengan pedangnya. Monster itu tidak
menyerang balik saat diserang, ia hanya terdiam membatu. Tapi setelah lima
detik berlangsung monster itu akan kembali menyerang dengan cara berlari
mengejar Allen, walau gerakannya lebih lincah dari babi hutan Allen dapat
berlari lebih kencang dari monster itu, inilah yang menyebabkan ia tetap aman
saat melawan monster tersebut.
Allen sudah berkali-kali menyerang monster itu
dengan pedangnya, akan tetapi monster itu masih tetap kokoh berdiri. Saat
monster itu berhenti menyerang Allen masih tetap mengayunkan pedangnya ke tubuh
monster itu, hingga saat lima detik berlalu monster itu tiba-tiba mengeluarkan
suara geraman yang lebih keras dari sebelumnya, Allen merasa terkejut dan
segera menjauhkan diri dari monster itu. Tapi kali ini monster itu tidak
berlari kearahnya, monster itu hanya terdiam memandanginya dari kejauhan. Lalu
monster itu memasukan ekornya kedalam tanah, Allen tidak mengerti apa yang akan
dilakukan. Tiba-tiba dari tanah didepan monster itu muncul dua tumbuhan
merambat yang ujungnya runcing, tumbuhan merambat itu meluncur dengan cepat
menuju kearahnya, ia tidak bisa melihat gerak tumbuhan merambat itu karena
terlalu cepat. Tumbuhan merambat itu mengenai tubuhnya karena tidak sempat
menghindar, ujungnya yang runcing menembus tubuhnya dan terasa sangat sakit.
Tapi Allen tidak terluka sama sekali, sama seperti saat ia mengenai tubuh babi
hutan dan monster ini dengan pedangnya, tubuh mereka hanya tergores kemudian
goresannya menghilang dan tidak ada luka sama sekali pada tubuhnya. Allen tidak
merasa heran lagi dengan hal aneh ini karena ini hanyalah dunia fantasi. Tumbuhan
merambat itu kembali menuju kearah monster itu dan masuk ke dalam tanah.
Setelah tumbuhan merambat menghilang kini monster aneh itu mengeluarkan ekornya
yang tadi dimasukan ke dalam tanah. Dari serangan monster itu hit point milik
Allen berkurang tidak terlalu banyak.
Setelah melakukan serangan tadi, kini monster itu
menggulungkan tubuhnya seperti roda. Tubuh monster itu berputar begitu cepat
yang mengarah menuju tempat Allen berada. Untung saja ia bisa menghindar karena
jaraknya yang jauh. Monster itu tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga
terus berputar menuju kearah depan, hingga saat tubuhnya menabrak pepohonan
monster itu langsung terlentang ditanah. Saat terlentang monster itu tidak
dapat membalikan tubuhnya seperti semula, ia terus menggerakan tubuhnya agar
dapat berbalik, sama seperti seekor kecoa yang mencoba membalikan tubuhnya saat
terlentang. Melihat momen ini Allen segera memanfaatkannya untuk menyerang
tubuh monster itu. Ia mengayunkan pedangnya berkali-kali dengan sekuat tenaga
ke tubuh monster itu, namun monster tersebut sangatlah kuat, setelah diserang
berkali-kali monster aneh itu belum juga bisa dikalahkan dan ia masih terus
menggerakan tubuhnya untuk bisa membalikan tubuhnya sambil mengeluarkan suara
geraman pelan. Hingga saat monster itu bisa membalikan tubuhnya Allen segera
berlari agar bisa menjaga jarak dengannya. Monster itu kembali menggeram dengan
keras, ia kembali memsukan ekornya kedalam tanah dan keluarlah tanaman merambat
dari dalam tanah yang segera meluncur kearah Allen. Namun kali ini serangannya
lebih lambat dari sebelumnya, Allen dapat menangkisnya dengan cara memotong
bagian tajam dari tumbuhan merambat itu menggunakan pedang pendeknya. Serangan
monster aneh itupun gagal, itu membuatnya tampak marah dan kembali menggeram. Dengan
cepat monster itu menggulungkan tubuhnya seperti roda dan berputar dengan cepat
menuju kearah Allen berada, namun sayang sekali monster itu gagal lagi
mendaratkan serangannya pada Allen, ia dapat menghindar dengan cepat. Sama
seperti sebelumnya monster itu terlentang saat menabrak pepohonan karena tidak
bisa mengendalikan diri. Ini adalah momen yang paling ditunggu oleh Allen, ia
segera berlari menuju kesana dan langsung membabi buta monster itu. Saat
monster itu bisa kembali berdiri Allen segera berlari untuk menjauh. Monster
itu kembali menggeram namun sekarang sangat keras hingga membuat Allen menutup
telinganya dan membuat burung-burung disekitar berterbangan. Sekarang monster
itu tidak memasukan ekornya ke dalam tanah melainkan mengangkatnya dan
memekarkan bunga yang ada pada ujung ekornya yang semula kuncup, bunga itu
terlihat sedang menyerap cahaya matahari menuju kearahnya, terlihat
cahaya-cahaya kecil menuju ke bunga yang ada di ekornya itu, Allen tidak tau
apa yang dilakukanya tapi itu terlihat berbahaya. Monster itu kembali
menguncupkan bunga setelah selesai menyerap cahaya. Allen tidak tau apa yang
akan terjadi selanjutnya, tapi sekarang ia sudah dalam posisi siap menyerang. Monster
aneh itu membuka mulutnya dan mengeluarkan gas berwarna ungu yang terus
menyebar di udara, dalam beberapa hitungan detik saja area disekitarnya sudah
dipenuhi oleh gas berwarna ungu tersebut. Allen tidak dapat menghindar dari
serangan tersebut karena gas itu sudah menyebar kemana-mana, hidungnya terasa
sakit setelah menghirup gas tersebut tapi rasa sakitnya segera hilang hanya
dalam beberapa detik. Setelah beberapa detik tempat yang tadi dipenuhi oleh gas
berwarna ungu kini kembali seperti semula dengan cepat, tidak ada lagi gas yang
memenuhi wilayah tersebut. Tapi setelah gas itu menghilang kepala Allen terasa
sakit, rasa sakitnya sama seperti saat dulu ia selesai memakan kentang yang
beracun. Dengan rasa cemas ia segera memunculkan layar hologram didepannya dan
dugaannya benar, saat melihat ke ikon tubuh manusia yang semula berwarna kelabu
kini berubah menjadi ungu dan juga hit
pointnya berkurang sedikit demi sedikit. Ia mulai panik karena tidak ingin
mengulangi perjalanan yang melelahkan ini dari tempat awal. Tapi ia ingat
kembali bahwa dirinya memiliki beri manis yang dapat menghilangkan keracunan,
ia segera mengeluarkan beri itu dan memakannya. Ia awalnya ragu kalau beri itu bisa
menghilangkan keracunan, tapi saat melihat layar hologram ia terkejut melihat
ikon tubuh manusia kembali menjadi warna kelabu serta rasa sakit kepalanya
hilang seketika. Hit pointnya juga
yang tadinya tinggal setengah kini sudah bertambah walau tidak terlalu banyak,
melihat hal itu ia segera memakan beberapa beri untuk memulihkan tubuhnya dan
kini hit pointya sudah penuh kembali.
Monster itu masih diam di posisi yang sama tapi sekarang monster itu kembali
mengangkat ekornya dan memekarkan bunga untuk menyerap cahaya. Allen dari
kejauhan sudah menyiapkan diri untuk serangan berikutnya, ia tidak merasa takut
karena persediaan beri manisnya masih banyak. Namun dugaannya salah, monster
itu membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan gas beracun melainkan menembakan
bola cahaya yang berwarna kehijauan. Allen terkejut dan segera menghindari bola
cahaya itu yang mengarah pada dirinya, ia dengan cepat bergerak kearah kanan
untuk menghindari serangan monster itu, namun bola cahaya itu terus bergerak
mengikuti dirinya, Allen berlari dengan sekuat tenaga namun bola cahaya itu
terus mengikutinya dari belakang. Sayang sekali bola cahaya itu bergerak lebih
cepat dari dirinya, bola cahaya itu mengenai punggungnya dan langsung meledak,
seketika Allen terlempar ke depan karena ledakan itu. Ia langsung memunculkan
layar hologram untuk mengetahui berapa serangan yang ia terima, ia terkejut
saat melihat hit pointnya yang tadinya
penuh sekarang hanya tersisa setengah, andai saja tadi ia tidak memakan
beberapa beri untuk memulihkan tubuhnya pasti saat ini ia sudah mati dan
kembali lagi ke tempat awal dan mengulangi perjalanannya. Melihat hal itu ia
segera memakan beberapa beri manis lagi untuk memulihkan tubuhnya sekaligus
berjaga-jaga pada serangan berikutnya yang mungkin jauh lebih berbahaya. Kini
monster itu kembali mengangkat ekornya dan memekarkan bunga yang ada di
ujungnya. Sekarang Allen berpikir untuk menyerang monster itu saat sedang
menyerap cahaya, karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan
cahaya dan mengeluarkan serangan. Ia segera berlari menuju monster itu berada,
untung saja monster itu hanya fokus untuk menyerap cahaya dan menghiraukan apa
pun yang berada di sekitarnya termasuk Allen yang ingin menyerang monster
tersebut. Ia langsung menyerang tubuh monster itu dengan pedangnya saat sampai
disana. Monster ini sangat kuat, serangan membabi buta yang diberikan oleh
Allen masih belum bisa membuatnya kalah. Hingga saat monster itu berhenti
menyerap cahaya dan bersiap mengeluarkan serangan Allen dengan sekuat tenaga
mengayunkan pedangnya ke tubuh monster aneh itu, serangannya membuat monster
itu roboh ke tanah namun tidak menghilang. Allen beranggapan monster itu masih
belum kalah, ia pun kembali menyerang monster yang sudah tak berdaya. Hingga
akhirnya usahanya berhasil untuk mengalahkan monster tersebut, tubuh monster
itu berubah menjadi butiran kecil bercahaya yang langsung menuju ke liontin
miliknya. Allen segera merebahkan tubuhnya ke tanah untuk melepaskan lelah, ia
bahagia karena bisa mengalahkan monster yang mengerikan itu. Dalam posisi yang
masih terlentang ia langsung memunculkan layar hologram di hadapannya, dari
hasil mengalahkan monster itu ia mendapatkan enam buah sisik yang berwarna
hijau, kulit monster yang bersisik dan juga bunga berwarna merah yang berada
pada ekor monster itu, ia tidak mendapat benda yang terlihat bisa dimakan. Nama
monster itu adalah Floralizard, terlihat pada benda-benda yang ia dapatkan.
Seperti dugaannya ternyata kota sudah semakin dekat.
Dari kejauhan ia sudah bisa melihat ujung dari pepohonan. Allen segera berlari
dengan hati yang senang, dan kini ia sudah berada di tengah-tengah pertigaan
jalan. Didepannya ia melihat hamparan perkebunan yang sangat luas yang
ditumbuhi berbagai macam tanaman musim panas seperti tomat, bawang, jagung,
semangka dan masih banyak lagi tanaman lainnya, ia juga melihat beberapa petani
yang sedang bekerja mengurus kebunnya. Saat menoleh ke arah kiri ia melihat
sebuah kota yang jaraknya lumayan jauh, rasa senangnya hilang karena dia harus
berjalan lagi menuju kesana. Tapi ia beruntung karena diberi tumpangan oleh
seorang petani yang sedang membawa jerami menggunakan gerobak kuda, ia duduk
dibelakang sambil bersandar di tumpukan jerami dan memandangi lagit biru yang
cerah. Ia berpikir mungkin akan merindukan petualangannya di hutan, berjalan
melewati pepohonan yang hijau dan mendengarkan suara jangkrik saat malam serta suara
cicada saat siang hari. Tapi itu semua tidak terlalu penting baginya, sekarang
ia merasa bisa tinggal dengan aman di kota.
No comments:
Post a Comment