Tuesday, August 2, 2016

Karya iseng-iseng

Sebenernya pingin belajar bikin novel. Tapi kehabisan ide, ya jadinya seperti ini xD
Semoga di lain kesempatan aku bisa jadi penulis novel yang bisa menerbitkan karya-karya yang bagus 0:) untuk sekarang fokus belajar dulu sebagai siswa.




Chapter 1
Perjalanan Menuju Kota

Allen dengan lesu berjalan melawati trotoar sepi yang hanya ditemani oleh warna jingga langit sore hari. Ia baru saja pulang dari sekolah karena ada beberapa tugas yang harus deselesaikannya. Tidak biasanya ia pulang sampai sesore ini, di hari biasa ia selalu pulang ke rumah setelah pelajaran di sekolahnya berakhir. Dia juga sama sekali belum makan siang, itulah yang membuat Allen semakin lesu. Ia pun segera menuju ke sebuah restoran yang jaraknya dekat dengan apartemennya, tempat dimana ia selalu bisa makan dengan tenang.
Seperti biasa ia selalu duduk di meja paling pojok yang dekat dengan jendela, kecuali jika seseorang telah duduk disana terlebih dahulu. Restoran ini tidak terlalu besar, hanya terdapat enam meja yang dilengkapi dengan empat kursi. Setelah pesananya datang ia dengan segera memakannya karena sudah sangat lapar. Sesekali ia memandang ke luar jendela, dilihatnya pemandangan indah laut biru yang diterangi cahaya jingga dari matahari sore dan ditemani oleh kapal-kapal nelayan yang berlabuh di dermaga serta sebuah pulau yang terlihat kecil diseberang laut yang ditumbuhi pepohonan hijau yang rindang. Itulah sebab Allen memilih duduk disini, ia bisa memanjakan matanya dengan panorama alam yang masih belum terjamah manusia. Setelah makan ia segera berjalan menuju ke apartemennya.
Tinggal di apartemen, jauh dari orang tuanya dengan alasan agar bisa hidup mandiri, tapi bukan itu sebenarnya tujuan dari Allen. Ia hanya ingin hidup bebas dengan bermain game tanpa harus dimarahi oleh ibunya dan juga agar dia dapat terus bermalas-malasan setiap harinya. Tapi itu tidak membuat prestasinya di sekolah menurun, ia selalu mendapat nilai dan peringkat yang bagus di sekolahnya. Sesampainya di apartemen ia segera menuju ke kamar mandi. Memang apartemen ini tidak terlalu mewah hanya terdapat empat ruangan diantaranya kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan juga dapur, namun Allen tidak pernah menggunakan dapurnya karena ia tidak bisa memasak, sesekali ia mencoba untuk memasak tapi hasilnya selalu gagal. Terdapat sepuluh kamar di apartemen ini semuanya terisi penuh oleh orang-orang yang masih muda, Allen tinggal di kamar nomor tiga di lantai dua.
Setelah mandi ia segera menuju ke kamarnya, disana ia segera menyalakan komputernya lalu memasang headphone dan segeralah dia memainkan game kesukaannya. Berjalan mengelilingi tempat-tempat baru, memecahkan misteri, menyelesaikan misi, mengalahkan monster dan mendapatkan barang-barang langka, itulah kesenangan yang ia dapat saat memainkan game Legend Fantasy ini. Ia memainkan game ini hingga lupa waktu, ia selalu menatap layar monitor dan menghiraukan jam dinding yang tergantung di sebelah kanannya, inilah yang menyebabkan Allen selalu bermain hingga larut malam. Namun hari ini ia bisa bermain dengan tenang karena sekarang hari sabtu, hari yang selalu dinatikannya karena besok hari minggu dan ia bisa tidur sepuasnya. Jarum jam sudah hampir menunjukan pukul setengah tiga, Allen pun merasa mengantuk dan ia ingin segera mematikan komputernya dan segera tidur. Tapi saat keluar dari game tiba-tiba Allen mendapatkan sebuah pesan, iapun bingung setelah membaca pesan tersebut.
“Apakah kau ingin petualangan yang lebih seru?
Jika kau menginginkannya buka website dibawah ini.”
Dia berpikir bahwa pesan itu hanya untuk lelucon, namun dia penasaran dengan halaman website yang disediakan. Iapun segera menuju ke website tersebut. Namun ternyata benar itu hanya lelucon, setelah ia membuka website tersebut disana hanya terdapat halaman kosong berwarna putih. Karena merasa membuang-buang waktu Allen segera mematikan komputernya dan langsung membaringkan dirinya di tempat tidur.
            Ketika tidur Allen mendapat sebuah mimpi aneh, ia berdiri sendirian di tengah-tengah taman bunga yang luas dan tiba-tiba sesorang gadis kecil muncul dihadapannya dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna perak, gadis itupun segera meninggalkannya. Allen segera membuka kotak itu, di dalam kotak itu berisikan dua benda yaitu liontin dengan permata berwarna biru yang ditengah permata itu berisi corak bulan sabit dan cincin dengan permata berwarna jingga terang yang ditengah permata terdapat corak seperti matahari yang bersinar. Ia pun segera memakai kedua benda tersebut dan setelah ia memakainya ia terbangun dari mimpinya.
            Ketika terbangun, Allen merasa heran karena yang dilihatnya bukan kamar tidurnya yang nyaman melainkan ruang hampa. Tidak ada apapun disini yang dilihatnya hanyalah warna putih yang tak berujung. Ia tidak tau apa yang terjadi, tapi dia beranggapan bahwa dirinya masih bermimpi, ia pun segera mencubit pipinya namun rasa sakitnya terasa. Ia bingung dengan apa yang terjadi. “Selamat datang di Megnaveil.” Sebuah suara misterius terdengar dari atas, Allen merasa terkejut karena suara itu terdengar keras dan menggema. Setelah suara berakhir tiba-tiba ruang hampa berubah menjadi hamparan padang rumput hijau yang luas dan muncul lah seseorang dari arah suara yang terdengar yang sedang menghampiri Allen. Orang itu memakai pakaian serba putih yang terlihat seperti pastur, tubuhnya pendek seperti anak laki-laki yang berusia sebelas tahun dan wajahnya tidak terlihat, Allen hanya bisa melihat mulutnya yang selalu tersenyum.
            Allen merasa bingung dengan kejadian yang menimpanya, setelah orang itu berada di hadapannya ia segera menanyai apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia bisa berada di tempat ini. Kemudian orang itu menjelaskan semuanya kepada Allen, orang aneh itu bernama Etarna, ia menjelaskan saat dirinya mengirim surat undangan berupa pesan kepada Allen dan dari sanalah kenapa Allen bisa berada di tempat ini. Dia juga mengatakan bahwa jiwa Allen akan terus berada di dunia ini dan tubuhnya akan tetap tertidur di tempat tidurnya yang nyaman. “Apa kau bercanda? bagaimana mungkin itu bisa terjadi, aku yakin aku masih bermimpi.“ berbicara dengan nada jengkel. Etarna segera membalas “Baiklah jika kau tidak percaya, aku ada urusan mendadak jadi selamat tinggal. Kau teruslah berjalanlah lurus kearah hutan mengikuti jalan setapak, kau bisa menemukan kota jika kau berhasil melewati hutan. Jika kau lapar gunakanlah alat yang kuberikan di liontinmu.” Ia pun segera terbang meninggalkan Allen dan menghilang di udara. “Liontin?” ia segera menoleh kebawah dan ia terkejut melihat dirinya mengenakan liontin yang sama seperti yang dipakainya saat mimpi serta cincin yang sama di telunjuk tangan kanannya.
            Liontin biru itu bersinar dan karena penasaran ia segera menyentuhnya, ia terkejut saat sesudah menyentuh liontin itu. Sebuah layar hologram berwarna biru muda tiba-tiba muncul di hadapannya , hologram itu berbentuk seperti papan catur dan berukuran sama seperti papan catur, lengkap dengan jumlah enam puluh empat kotak kecil dan di empat kotak pertama terdapat benda yang sudah terisi oleh beberapa barang, mungkin itu barang yang dikatakan oleh Etarna. Hologram itu selalu mengikuti arah kepala Allen kemanapun ia menggerakan kepalanya, ia pun mencoba menyentuh salah satu kotak yang berisi benda dan saat ia menyentuhnya sebuah kotak dengan ukuran mungkin sama dengan sembilan kotak kecil muncul di sebelah kanannya, kotak itu berisikan informasi tentang barang yang disentuh oleh Allen, keempat barang yang diperolehnya dari Etarna adalah korek api, pisau, kendi labu untuk menyimpan air dan sebuah tenda. Setelah itu saat ia menyentuh kembali liontinnya layar hologram itu mengghilang dan akan muncul bila ia menyentuhnya kembali.
            Kemudian ia mengingat perkataan Etarna bahwa dia harus berjalan terus lurus kearah hutan agar dapat menuju ke kota, segeralah ia pergi menuju ke hutan di depannya, ia berjalan melalui jalan setapak di hutan. Hutan ini tidak terlalu lebat, cahaya matahari masih bisa menembusnya. Allen melihat ke sekelilingnya dengan penuh rasa takjub karena ia belum pernah sama sekali masuk ke dalam hutan, hutan yang ditumbuhi banyak tumbuhan hijau sama seperti hutan pada umumnya. Ditengah perjalanan ia mendengar suara sungai yang berasal dari arah depan, segera ia mempercepat langkahnya untuk menuju ke sumber suara tersebut karena merasa sedikit haus. Saat sampai ia melihat sebuah sungai yang lebar namun dangkal yang arusnya mengalir dengan tenang menuju kearah kanan dirinya, sungai itu tampak jernih bagai kristal ia bisa melihat ikan-ikan kecil yang sedang berenang dengan jelas. Ia pun mengambil air menggunakan kedua tangannya dan segera meminumnya. Lalu ia teringat bahwa ia memiliki kendi labu di liontinnya, ia segera menyentuh liontinnya dan kemudian mucul layar hologram di depannya. Namun sekarang terdapat kotak tambahan yang terletak di sebelah kiri, bentuknya persegi yang ukurannya sama dengan sembilan kotak kecil. Pada kotak baru itu di bagian atasnya terlihat hit point bar yang berwarna merah yang panjangnya seukuran dengan kotak tersebut dan di tengah kotak terdapat sebuah ikon yang berbentuk seperti tubuh manusia yang berwarna kelabu, kemudian Allen beranggapan bahwa kotak baru itu menggambarkan keadaan tubuhnya.
Lalu ia berpikir bagaimana caranya mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam liontinnya, ia kemudian mencoba menyentuh kendi labu yang ada pada kotak nomor tiga, namun saat ia menyentuhnya hanya kotak tambahan muncul di sebelah kanan yang menjelaskan apa benda yang disentuhnya, lalu ia mencoba menyentuh benda itu untuk kedua kalinya namun tidak ada yang terjadi. Setelah berpikir lama ia segera mencoba untuk menyentuh benda itu dan menekannya sedikit lebih lama dan tiba-tiba layar hologram yang ada di depannya menghilang seketika setelah itu di depannya muncul kendi labu yang bentuknya sama persis seperti yang ada di layar hologram, benda itu melayang didepannya. Allen sedikit terkejut namun ia segera menghiraukannya, ia langsung mengambil kendi labu itu dan segera mengisikannya dengan air.
Setelah terisi penuh ia bingung bagaimana caranya untuk mengembalikan benda tersebut ke dalam liontin, ia mencoba berbagai cara untuk mengembalikan benda itu ke dalam liontin seperti mencoba melempar benda itu keatas dan menangkapnya kembali dengan tangannya, mengayunkan benda tersebut dan tidak ada yang berhasil. Ia jengkel karena tidak bisa menemukan cara untuk mengembalikan kendi labu itu. Kemudian ia mencoba untuk mendekatkan benda itu ke dekat liontin namun tetap tidak berhasil, ia tetap mendekatkan benda itu ke lontin dan tangan kirinya menyentuh liontin, seketika benda itu menghilang dan berubah menjadi butiran-butiran kecil yang berkilau, butiran-butiran kecil itu bergerak menuju ke liontin dan Allen berhasil menemukan cara untuk mengembalikan benda ke dalam liontin. Setelah itu ia segera bergegas melanjutkan perjalanan. Ia berpikir bahwa dunia ini mirip seperti sebuah sebuah game, game petualangan yang mirip dengan beberapa game yang ia mainkan.
Allen terus melanjutkan perjalanan namun kini hari sudah semakin sore. Ia merasa lapar karena belum makan sama sekali, ia hanya minum beberapa teguk air saja. Ia tidak tau makanan apa saja yang dapat ia makan di dunia ini, yang dilihatnya dari tadi hanyalah dedaunan hijau dari pohon dan tumbuhan di sekitar perjalanannya. Ia berpikir untuk beristirahat hari ini, kakinya sudah lelah berjalan dan hari sudah hampir malam, namun beristirahat di tengah hutan bukanlah ide yang bagus pikirnya, mungkin saja ada hewan buas yang berkeliaran di sekitarnya saat malam. Dengan penuh keraguan ia berusaha mencari tempat yang sedikit lebih luas untuk membangun sebuah tenda, ia juga mengambil beberapa kayu dan ranting pohon yang sudah kering di tanah dan langsung memasukannya ke dalam liontin untuk digunakannya nanti membuat api unggun. Setelah berjalan cukup lama melewati jalan setapak, akhir ia menemukan lahan yang cukup untuk bisa membangun tenda. Padang rumput yang tidak terlalu luas mungkin seukuran dengan lapangan tenis, pepohonan hanya mengelilingi area tersebut dan tidak berada di sekitar area sehingga ia bisa melihat langit diatasnya dengan jelas dan dipercantik dengan adanya sebuah kolam kecil yang airnya sangat jernih yang berada pojok kanan sebelah barat arah matahari terbenam.
Untung saja Allen pernah membuat api unggun sebelumnya, jadi dia tidak perlu kerepotan untuk membuatnya. Setelah api unggun menyala ia kebingungan untuk memakan apa, ia pun segera bergegas menuju ke dalam hutan untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Di sekitar hutan ia melihat beberapa ayam hutan yang sedang berkeliaran, namun ia tak bisa menangkapnya karena berlari cukup cepat. Allen yang kelelahan pun segera menghiraukan ayam-ayam itu, ia terus berjalan hingga menemukan tanaman yang dikenalnya. Kentang, ia pernah dulu ikut membantu kakenya memanen kentang di kampung halamannya, ia dapat mengenalinya karena bentuk daunnya. Segera lah ia mencabut kentang itu dan mendapat enam buah kentang yang ukurannya cukup besar, segeralah ia memasukan kentang-kentang itu kedalam liontinnya. Karena dirasa sudah cukup ia segera kembali menuju ke tempat semula.
Allen tidak tau caranya memasak, jadi ia hanya melemparkan kentang-kentang itu ke bara api. Sambil menunggu kentang-kentang itu masak, ia pergi ke kolam didekatnya dan mengambil minum. Air di kolam itu sangat jernih, ia bisa melihat pantulan wajahnya dengan jelas walau saat malam, bagaikan cermin yang terbuat dari kristal. Ia mengambil kentang-kentang itu dari api unggun dan meletakannya pada daun yang lebar. Ia menunggu sampai kentang-kentang itu tidak terlalu panas dan langsung memakannya. Rasanya hambar, tapi Allen terus memakannya karena sudah sangat lapar. Karena ukurannya yang cukup besar ia hanya menghabiskan empat kentang saja karena kekenyangan.
Setelah makan kemudia ia berencana untuk membangun tenda dan segera tidur, namun belum sempat mengeluarkan tenda kepalanya menjadi pusing dan perutnya menjadi sakit. Dia mencoba untuk duduk sejenak sambil memegangi bagian yang sakit. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi, tapi segera dia menyentuh liontinnya untuk mengeluarkan tenda. Ia sangat terkejut setelah layar hologram itu muncul dihadapannya. Pada kotak sebelah kiri, kotak yang menerangkan keadaan tubuhnya, terlihat hit point bar yang sebula penuh kini hanya tinggal setengah, dan juga ikon tubuh manusia yang awalnya berwarna kelabu kini berubah menjadi warna ungu. Ia bingung dengan apa yang terjadi, sementara itu hit pointnya terus berkurang, saat melihat ikon tubuh manusia yang berwarna ungu ia kemudian beranggapan bahwa dirinya sedang keracunan. Lalu ia panik karena hit pointnya terus berkurang. Ia segera mencari cara untuk bisa menghilangkan keracunannya. Ia langsung berlarian ke sekitarnya dan mencari-cari sesuatu yang dapat menghilangkannya namun ia tidak tau apa yang akan dicari. Panik karena tidak bisa menemukan apa-apa ia pun pasrah, ia terdiam dan segera menyentuh liontinnya dan dilihatnya hit pointnya yang hampir sudah habis, ia pasrah sambil menatapi hit pointnya yang terus berkurang. Hingga saat hit pointnya habis matanya mulai berkunang-kunang, ia kehilangan kesadaran lalu terjatuh ke tanah dan semuanya menjadi gelap.
Saat Allen membuka matanya ia menyadari bahwa dirinya sedang terbring di tanah dan saat menoleh ke arah kanan ia melihat sesosok orang yang ia kenal. Orang itu adalah Etarna, Etarna duduk bersila sambil memandangi arah depan dan disebelahnya terdapat sebuah benda yang melayang disekitar bahu kanannya dengan bentuk yang bulat seperti bola yang digunakan oleh peramal yang mengeluarkan cahaya terang yang cukup untuk menerangi malam yang gelap gulita ini. Segera Allen bangun dan menanyakan keanehan yang dialaminya.
“Tadi hit point ku habis dan apa yang terjadi?” bertanya dengan rasa penasaran sekaligus bingung.
“Tadi kau terkena racun dari kentang yang terlalu lama di dalam tanah, lalu kau mati dan bangkit lagi ke tempat ini”
Allen baru saja menyadari bahwa ini merupakan tempat awal saat pertama kali ia ke tempat ini, di hamparan padang rumput yang luas tempat pertama kali ia bertemu dengan Etarna.
            “Mati dan bangkit? Apakah sama seperti yang terjadi saat aku bermain game?”
            “Iya benar, petualangan yang seru seperti game, itulah yang kumaksud dalam surat undangan yang aku kirim padamu. Selamat datang di Megnaveil!”
            “Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan, aku kembali lagi ke tempat awal.”
            “Kau harus mengulangi kembai petualanganmu, tugasmu adalah menuju ke kota terdekat kau ingat?”
            “Apa? Apa kau serius, perjalanan itu sungguh melelahkan!” berteriak kehadapan Etarna
            “Ya setidaknya kau harus berusaha, sama seperti yang kau lakukan di game yang kau mainkan. Terimalah ini, mungkin ini dapat membantu.” Ia memberikan beberapa barang kepada Allen.
“Oh iya, kau tidak perlu menggunakan kedua tanganmu untuk memasukan benda kedalam liontin, cukup dengan menyentuh benda yang kau pegang tersebut dengan liontin dan benda itu akan segera masuk dengan sendirinya.”
            “Hey, bagaimana kau bisa tau aku melalukan itu?”
            “Maaf tapi sepertinya aku punya urusan mendadak, aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal.” Ia segera terbang dan menggilang.

Allen jengkel dengan sifat Etarna, ia terus menggerutu setelah apa yang terjadi, ia juga merasa kesal karena perjalanannya sia-sia, ia harus kembali ketempat awal dang mengulangi perjalanannya kembali. Tapi setidaknya sekarang ia merasa seidikit terbantu karena diberikan beberapa barang yang cukup berguna, ia diberikan pedang pendek untuk berjaga-jaga melawan hewan berbahaya, tombak yang bisa digunakan untuk berjaga-jaga dan juga untuk memburu hewan seperti ayam hutan yang sulit didapatkannya tadi, sepuluh buah beri manis yang warnanya merah dan seukuran dengan leci yang berguna untuk menghilangkan keracunan dan juga ia diberi light orb, benda yang sama digunakan oleh Etarna, benda bulat yang bentuknya seperti bola peramal yang berguna untuk menerangi kegelapan.
Allen segera ingin mendirikan tenda namun ia bingung bagaimana cara untuk membangun tenda karena ia sama sekali belum pernah pergi berkemah. Namun dengan waktu yang cukup lama ia berusaha sekuat tenaga mencoba dan mencoba hingga akhirnya tenda itu terbangun dengan sempurna. Ia segera membawa light orb masuk bersamanya setelah tadi digunakan untuk menerangi kegelapan di luar saat mendirikan tenda. Saat membaringkan tubuhnya ia merasa senang karena bisa beristirahat dengan tenang sekarang, setelah perjalanan yang melelahkan sekarang ia bisa tidur dengan santai sambil ditemani suara merdu jangkrik disekitarnya. Ya walaupun harus mengulang kembali perjalanannya dia tetap senang karena bisa beristirahat sekarang.
Kini matahari sudah terbit, sudah saatnya bagi Allen untuk bangun. Di pagi hari seperti ini biasanya Allen memulai harinya dengan sarapan, sereal yang ditambah dengan susu merupakan makanan favoritnya saat pagi hari. Namun dimana ia bisa mendapat sereal di hutan seperti ini, karena lapar ia segera ke hutan untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Ia segera mengeluarkan tombak dari liontinnya dan langsung menuju ke dalam hutan.
Sekarang ia menemukan makanan yang lebih banyak dari sebelumnya, tidak hanya kentang seperti yang didapatnya tadi malam. Ia menemukan berbagai makanan seperti apel, pisang, rebung dan bahkan menemukan banyak beri manis yang sama seperti yang diberikan Etarna, ia mencoba memakan beri manis itu karena tidak ingin dikerjai oleh Etarna dan memang rasanya manis dan teksturnya lembut seperti stroberi serta memiliki air yang banyak. Setelah memakannya ia segera mengecek tubuhnya dan tidak terjadi efek yang buruk. Sesekali ia melihat tanaman kentang saat berjalan di hutan, namun ia tidak mengambilnya karena masih trauma dengan kejadian kemarin malam.
Dari tadi ia belum menemukan makanan yang dapat memuaskannya. Ia terus berjalan dan pada akhirnya ia menemukan ayam hutan. Sekarang ia tidak akan mengejar ayam itu karena ia tau bahwa ayam itu bisa berlari dengan cepat. Sekarang ia sudah dalam posisi siap untuk melempar tombaknya, ia menunggu momen yang pas saat ayam itu berhenti bergerak dan melepaskan tombaknya. Dalam jarak kurang lebih tiga meter saat ayam itu berhenti ia melepaskan tombaknya, namun sayang ia meleset dan ayam itu lari meninggalkannya. Allen merasa kesal dan langsung mengambil tombak yang sedang menancap di tanah dan langsung berjalan pergi menuju arah ayam tersebut berlari.
Saat ayam itu terlihat ia menghentikan langkahnya dan langsung mengambil posisi bersiap untuk melempar tombaknya. Lalu saat ayam terdiam ia segera melemparkan tombaknya dan kali ini tombak tersebut berhasil mengenai ayam itu, sebuah balas dendam yang manis. Tapi tiba-tiba ayam yang dikenainya itu berubah menjadi butiran-butiran kecil yang bercahaya sama seperti saat mengembalikan barang kedalam liontin, butiran-butiran menuju ke liontinnya dan menghilang. Saat itu Allen langsung menyentuh liontinnya dan melihat ke layar hologram, sebuah benda bertambah ke salah satu kotak, benda itu adalah paha ayam, ia mendapat dua buah paha ayam saat mengalahkan ayam hutan tadi. Ia tidak merasa heran lagi dengan kejadian-kejadian aneh yang terjadi. Sekarang ia melanjutkan untuk berburu ayam hutan, namun hanya tiga ayam hutan yang dapat diburunya dan sekarang ia mendapat delapan buah paha ayam.
Api unggun sudah dinyalakan, Allen segera menusukan tiga buah paha ayam pada sebuah ranting tebal yang sudah diruncingkan, ia tidak memakan delapan paha ayam sekaligus karena itu akan membuatnya kekenyangan dan sekaligus untuk cadangan persediaan nanti, lalu ia memanggangnya diatas bara api sambil memutar-mutarkannya agar matang dengan merata. Setelah matang ia meletakan paha ayam itu ke daun yang lebar sambil menunggu sampai sedikit lebih dingin, paha ayam ini ukurannya sedikit lebih kecil dari paha ayam yang dijual di berbagai restoran cepat saji. Ia langsung memakannya ketika mulai mendingin, rasanya dagingnya sama seperti ayam pada umumnya namun teksturnya sedikit lebih keras, walau sedikit gosong tapi rasanya tetap enak. Setelah habis ia langsung memakan apel dan pisang yang ia dapat sebagai pencuci mulut, ia tidak bisa mengolah rebung jadi ia hanya menyimpannya saja dan tidak memakannya.
Allen segera bergegas untuk untuk melanjutkan perjalanannya, ia merapikan barang-barangnya dan memasukannya ke liontin. Ia masuk kedalam hutan melalui jalan setapak yang kemarin ia lalui, semua tampak sama dan tidak ada yang berubah, dedaunan hijau pohon yang tampak sama membuatnya bosan setelah kemarin seharian berjalan di hutan. Hingga saat ia sampai didepan sungai ia mulai berpikir untuk mandi, dia merasa gerah karena kemarin dia berkeringat saat berjalan di hutan. Dia mengikuti arah darimana datangnya sungai dan berharap menemukan tempat yang lebih dalam untuk berenang.
Walau tidak menemukan tempat yang dalam tapi ini lebih dari cukup, ia menemukan sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi, mungkin ukurannya dua kali dari tinggi tubuhnya, alirannya airnya tenang yang membuatnya terlihat nyaman untuk mandi disana. Allen segera melepas bajunya dan menaruhnya di bebatuan yang berada didekatnya. Ia memejamkan matanya dan langsung menuju ke aliran air terjun. Ia merasakan tubuhnya seperti disurga, kulitnya terasa dimanjakan dengan kesegaran dari air yang sangat jernih ini. Saat membuka matanya ia merasa terkejut karena didepannya terlihat sebuah lubang gua yang ukurannya tidak terlalu besar, lubang ini berada dibalik air terjun. Setelah dirasa cukup ia segera keluar dari aliran air terjun itu, setelah mengeringkan tubuhnya dibawah sinar matahari ia langsung memakai pakaiannya.
Dengan rasa penasaran yang besar ia ingin pergi menuju kedalam gua yang berada dibalik air terjun itu. Untung saja terdapat tempat yang tidak terkena aliran air terjun sehingga Allen bisa masuk kedalam gua tanpa perlu dirinya kebasahan. Saat didalam ia tidak bisa melihat apa-apa, disini sangat gelap hanya terlihat beberapa bagian dalam yang terkena sedikit sinar matahari dari luar, untung saja Allen memiliki light orb yang dapat menerangi gua ini. Tempat ini tidak terlalu besar, mungkin seukuran dengan bagasi mobil yang muat untuk menyimpan sebuah mobil. Di dalam sini sangat indah, terlihat ruangan yang digenagi air yang disekeliling ruangan terdapat beberapa kerang sungai, ia pun segera memungutnya. Allen hanya memungut kerang yang berukuran besar dan langsung dimasukan kedalam liontin. Disaat ia sedang mengambil kerang tanpa disadari di depannya ia melihat sebuah bunga yang tumbuh diatas batu yang ditumbuhi lumut, bentuknya seperti teratai namun lebih kecil dan berwarna biru langit. Saat Allen memetik bungai itu tiba-tiba bunga itu berubah menjadi butiran-butian kecil yang langsung menuju ke dalam liontinnya. Bunga itu bernama Blumarnia, ia tidak tau itu bunga apa tapi bunga itu sangat indah. Setelah itu ia langsung keluar dari dalam gua dan segera melanjutkan kembali perjalanannya yang melelahkan.
Di tengah perjalanan Allen terkejut saat melihat seekor rusa jantan sedang melintas dihadapannya, ukurannya besar dan memiliki tanduk besar yang terlihat runcing, rusa itu melintas kearah kirinya. Allen segera mengeluarkan tombak dan berjalan mengikuti rusa itu, ia mengendap-endap sambil mengikuti arah rusa itu berjalan dari kejauhan. Saat rusa itu terdiam memakan rumput, Allen segera melemparkan tombaknya. Namun sayang tombak tidak mengenai badan rusa itu melainkan kaki kiri belakangnya, rusa itu terkejut dan segera berlari terpincang-pincang dengan tombak yang masih menancap di kaki kiri bagian belakangnya. Rusa itu belum mati dan larinya tidak terlalu kencang jadi Allen berencana untuk memburunhya sekali lagi dengan pedang pendek yang diberikan oleh Etarna, ia berlari dengan kencang menuju kearah rusa itu berlari sambil memegang pedang pendek ditangan kanannya. Saat sudah dekat ia langsung mengayunkan pedangnya ke badan rusa di bagian kiri namun rusa itu belum mati, kemudian setelah dua kali ia mengayunkan kembali pedangnya ia berhasil membuat rusa itu mati. Rusa itu hilang dan berubah menjadi butiran-butiran kecil yang berkilau, sama seperti biasa. Dari hasil memburu rusa ia mendapat tiga buah daging rusa, tanduk rusa, kulit rusa dan tombaknya langsung kembali kedalam liontin, ia merasa tidak perlu berburu lagi karena danging rusa ukurannya cukup besar dan mungkin satu daging cukup untuk sekali istirahat.
Sekarang hari sudah sore, warna langit sudah berubah menjadi jingga. Allen berencana untuk beristirahat ditempat yang sama, tempat dimana ia mati kemarin malam. Tampak ditengah tempat tersebut terdapat abu dari bekas api unggun yang kemarin ia nyalakan, ia segera menyalakan api pada tempat yang sama. Ia mencoba untuk memanggang satu daging rusa yang ia dapat. Daging rusa rasanya berbeda dari daging lainnya walau teksturnya sedikit keras tapi rasanya sangat nikmat, apalagi kalau dijadikan steak pasti akan terasa lebih nikmat, begitu pikirnya. Saat selesai makan hari sudah mulai gelap, ia segera menuju ke kolam untuk mencari air, ia mengeluarkan light orb untuk menerangi jalannya, light orb akan selalu mengikuti tubuh si pemilik ketika mereka berjalan. Setelah itu ia segera membangun tenda dan langsung berbaring, sebelum tidur ia merasa merindukan momen saat bermain game di dalam kamarnya, ia rindu dengan kenyamanan dan rasa senang saat ia memainkan game. Namun rasa kantuk tidak dapat mengalahkan kerinduannya pada game, ia segera memajamkan matanya dan tertidur dengan pulas, tidur memang pekerjaan yang paling menyenangkan yang ada di seluruh dunia.
Allen sudah sarapan dengan daging ayam dan beberapa kerang dan kini ia sedang bergegas melanjutkan perjalanannya. Namun saat beberap langkah berjalan ia terkejut saat melihat seekor babi hutan menghadangnya didepan, babi hutan yang berwarna hitam dengan ukuran tubuh yang normal namun memiliki gading besar yang membuatnya terlihat menyeramkan. Babi itu berlari menuju kearahnya, untung saja larinya sedikit pelan sehingga Allen bisa dengan cepat menghindar. Namun babi itu kembali ingin menyerang Allen dan dengan cepat ia bisa menhindarinya, ia tidak tau apa yang terjadi tapi sepertinya dirinya harus bertarung melawannya. Allen dengan cepat mengambil pedang pendek yang ada pada liontinnya dan bersiap-siap untuk menyerang. Ia menunggu momen yang tepat untuk menyerang, yaitu pada saat babi itu menyerang kearahnya kemudian ia menghindar dan menyerang tubuh babi itu, untung saja gerakan babi ini lambat sehingga Allen bisa menyerangnya bertubi-tubi. Tapi babi ini sangat kuat, Allen sudah mengayunkan pedangnya ke tubuh babi itu bertubi-tubi namun babi itu belum mati juga. Hingga tiba saat Allen merasa kelelahan ia mulai lengah, babi hutan itu berhasil menyeruduk Allen dengan menggunakan gading besarnya. Ia terlempar jauh kebelakang, babi itu menyeruduk pada bagian perutnya, ia belum pernah diseruduk oleh babi hutan sebelumnya, rasanya sungguh sakit. Babi hutan itu dengan cepat berlari kearah Allen yang sedang berbaring di tanah sambil menahan sakit, saat mendekat ia segera menggulingkan tubuhnya kekanan sehingga ia bisa menghindari serangan babi hutan itu, lalu ia segera bangkit dan berlari untuk menjauhkan diri dari babi itu sambil menahan sakit. Ia langsung menyentuh liontinnya untuk melihat layar hologram, dilihatnya pada kotak bagian kiri, hit pointnya sudah berkurang walau tidak terlalu banyak, tanpa ragu lagi ia bersiap untuk serangan selanjutnya. Sama seperti rencana sebelumnya ia akan menyerang babi itu ketika ia menghindar dari serangannya, namun sekarang ia akan lebih serius, sekarang ia mengayunkan pedangnya lebih cepat sehingga dapat menyerang tubuh babi itu lebih banyak, awalnya ia menyerang hanya sebanyak dua atau tiga kali namun sekarang serangannya bisa lebih dari lima kali. Berkat usahanya babi hutan itu bisa dikalahkan lebih cepat. Allen sangat beruntung karena bisa mendapat persediaan makanan lebih banyak, ia mendapat dua daging babi yang berukuran sama seperti daging rusa namun lebih berlemak, ia juga mendapat gading babi hutan serta kulitnya. Karena merasa kelelahan setelah bertarung dengan sengit ia segera memulihkan dirinya dengan meminum air dan memakan beberapa buah, sekarang hit pointnya sudah kembali penuh dan tenaganya kembali pulih.
Siang ini sedikit berbeda dari hari sebelumnya, matahari bersinar lebih terang dan suhu lebih panas. Allen merasa gerah, dirinya serasa seperti berada di gurun pasir, ia menghemat persediaan air dengan memakan buah yang mengandung banyak air seperti apel yang banyak ditemukan di sepanjang perjalanan. Hari ini memang benar-benar panas, panas dari sinar matahari sangat menyengat kekulit, sesekali Allen harus berteduh dibawah pohon yang rindang untuk menhindar dari sengatan matahari. Pohon yang tumbuh sudah tidak selebat dibanding tempat semula, sekarang Allen bisa dengan jelas melihat langit biru yang cerah saat melewati jalan setapak, ia bisa mengira bahwa kota sudah semakin dekat.
Namun tidak sesuai dengan dugaannya, pada saat sore hari ia masih belum sampai di kota, ia merasa tidak senang karena petualangannya yang melelahkan masih berlanjut entah itu sampai kapan. Dengan berberat hati Allen memutuskan mencari tempat untuk beristirahat sama seperti sebelumnya, ia mencari-cari tempat yang tepat karena tidak ingin beristirahat di jalan setapak yang sempit, ia tidak bisa membangun tenda disana. Dan pada akhirnya ia menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat, memang tempatnya sedikit jauh dari jalan setapak tapi tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Ia menemukan lahan kosong yang tidak ditumbuhi pohon namun dekat dengan danau yang tampak memukau, disekitarnya juga terdapat banyak binatang kecil yang sedang bermain di lahan yang dipenuhi rumput seperti tupai dan kelinci, terdapat juga beberapa kunang-kunang yang sedang berterbangan di tepian danau yang tenang, dengan kedamaian yang dilihat ia memutuskan untuk beristirahat di tempat ini karena dilihat cukup aman.
Aroma daging yang dipanggang menggoda hewan-hewan kecil mendekat kearahnya, tuntu saja Allen tidak akan memberikan mereka daging sedikit pun karena pasti mereka tidak menyukainya. Hewan-hewan kecil itu berkumpul mengerumuninya sambil memandanginya makan, ia tidak tahan oleh kelucuannya. Allen memang sangat mencintai binatang apalagi dengan tubuh mungil yang lucu, ia merasa tidak tega ketika saat sedang memburu hewan yang ditemui sebelumnya, tapi untuk bertahan hidup apapun akan dilakukannya walau dengan berat hati membunuh hewan-hewan tersebut. Ia merasa tidak tahan ingin meraba bulu mereka yang tampak halus, tapi ketika tangannya ingin menyentuh tubuh mereka, semuanya pergi menjauh namun hewan-hewan itu masih tetap berkerumun disekitarnya. Allen segera memberi makan mereka, ia memberikan buah-buahan yang lezat kepada kelinci dan biji pohon ek yang diambil disekitarnya kepada tupai, mereka sangat menyukainya, dan seketika Allen dapat dengan mudah menyentuh bulu mereka yang halus walau hanya beberapa saat saja. Allen semakin terpesona saat memandang kearah danau, disana terlihat banyak kunang-kunang yang terbang berkilauan, ia mencoba mendekat dengan membawa sehelai daun ilalang yang ia petik ditepian danau. Ia membasahi daun tersebut dengan air danau dan ia segera berdiri sambil memegangi daun yang basah tersebut. Lalu beberapa kunang-kunang hinggap di daun tersebut untuk mencari minum, ia bisa melihat kunang-kunang itu mengedipkan cahaya yang indah dari dekat, semakin lama kunang-kunang yang datang semakin banyak. Allen merasa bernostalgia karena dulu saat kecil ia sering pergi ke rawa-rawa di dekat rumahnya dan bermain dengan kunang-kunang saat liburan musim panas tiba.
Saat pagi tiba suasana di tempat ini sangat sepi, tidak ada hewan-hewan kecil yang berkeliaran, mungkin mereka sedang tertidur didalam hutan, serta tempat ini juga diselimuti oleh kabut tipis. Seperti biasa Allen mulai menyalakan api unggun untuk memasak sarapannya, ia memanggan beberapa paha ayam dan kerang sungai yang masih tersisa, ia merasa harus mulai berburu lagi karena yang tersisa hanya beberapa daging rusa dan babi. Kini kabut sudah mulai menghilang, suhu sudah mulai menghangat dan hewan-hewan sudah mulai bermunculan. Sama seperti biasa Allen memberikan beberapa makanan kepada hewan-hewan lucu tersebut, saat sudah merasa puas ia segera menuju ke danau untuk mengambil minum dan ingin segera bergegas melanjutkan perjalanan. Namun saat Allen menyentuh air danau tersebut ia terkejut, air itu tidak terasa sejuk seperti kemarin malam melainkan hangat. Suhu hangat dari air danau ini menggodanya untuk berenang disana, namun ia merasa ragu karena tidak tau bagaimana kejadian aneh itu terjadi. Setelah berpikir panjang ia memutuskan untuk mencoba seteguk air dari danau itu, setelah ia mencoba tidak ada efek buruk yang terjadi dan rasanya sama seperti air pada biasanya. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera membuka pakaiannya dan segera berenang di danau ajaib itu.
Danau ini tidak terlalu dalam dan tidak terlalu luas, di dasar danau terlihat banyak tumbuhan air yang tumbuh dengan subur, ikan-ikan berenang dengan gembira di danau ini. Yang paling ditakuti oleh Allen adalah monster air atau ikan buas yang bisa saja menyerang dirinya, namun itu semua tidak ada di danau ini, disini sangat aman dan nyaman bahkan Allen bisa dengan santai melakukan banyak gaya saat berenang disini. Disini ia juga bisa melihat beberapa hewan, Allen melihat seekor kura-kura besar di atas bebatuan didekat danau yang sedang berjemur dibawah sinar matahari pagi, ia mencoba mendekatinya namun sayang ia segera menceburkan diri ke air dan meninggalkannya serta ia juga melihat segerombolan burung bangau yang sedang mencari ikan di tepian danau. Tempat ini memang indah, tidak hanya pada sore hari saja tapi pada pagi hari juga ia bisa melihat pemandangan yang memukau, Allen akan selalu merindukan tempat ini saat ia tiba di kota nanti.
Hari ini juga sama seperti kemarin, sinar matahari yang panas sangat menyengat di kulit. Untung saja Allen sudah menyiapkan persediaan air dan buah yang banyak untuk hal ini. Ia sekarang bisa merasakan bahwa kota sudah semakin dekat dikarenakan ia melihat beberapa bangunan yang dibuat manusia, seperti beberapa jembatan kayu yang dibangun diatas sungai yang mengalir cukup deras serta beberapa patung-patung kecil yang terbuat dari batu yang memiliki aneka ragam bentuk yang tersebar disepanjang pinggir jalan setapak, ia yakin bahwa bangunan itu dibuat oleh manusia karena terlihat begitu rapi. Saat diperjalanan Allen dikejutkan oleh seekor burung yang terbang diatasnya, itu bukan burung biasa, burung itu tampak seperti merak namun ukurannya lebih besar, warnanya bulunya putih yang dipadu sedikit warna biru muda, ekornya tampak lebih pendek dibanding burung merak tapi sayapnya lebih lebar yang memungkinkan burung itu dapat terbang di udara. Burung itu terbang dengan sangat elegan bagaikan awan yang melintas dilangit, burung itu terbang rendah sehingga Allen bisa dengan jelas melihat kecantikannya, pandangan matanya tidak bisa lepas dari keindahan burung itu. Ketika burung itu sudah tidak terlihat Allen kembali melanjutkan perjalanannya, saat berjalan beberapa langkah Allen melihat sebuah benda berkilau yang jatuh ketanah, ia segera berlari menuju kearah tempat benda itu jatuh. Allen segera mengambil benda berkilau itu, tapi benda tersebut bergerak masuk ke liontin dengan sendirinya saat ia memegangnya, dengan rasa penasaran Allen segera mengeluarkan benda tersebut. Benda itu adalah bulu Skyvescorus, mungkin itu nama burung indah tadi, bentuknya seperti bulu angsa namun lebih besar, berwarna putih dengan paduan biru muda di bagian ujungnya dan akan berkilau indah seperti permata jika bulu ini terkena sinar matahati. Allen merasa beruntung karena mendapat sebuah benda yang indah ini.
Belum lama berjalan saat Allen tiba di lapangan terbuka yang berada di tengah hutan, ia melihat monster aneh muncul dari sebuah lubang yang ukurannya sama dengan tubuh monster itu sendiri, ia merasa bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Tubuh monster aneh itu lebih besar dari babi hutan yang pernah dihadapi sebelumnya, bentuk tubuhnya seperti kadal dengan bentuk gigi seperti buaya, tubuhnya dipenuhi sisik yang berwarna hijau seperti warna daun serta pada ujung ekornya terdapat sebuah bunga yang terlihat kuncup dan saat mekar akan berbentuk seperti bunga teratai yang berwarna merah darah. Monster itu mengeluarkan suara geraman kearahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh, Allen sudah menyiapkan dirinya untuk bertarung melawan monster aneh itu, ia mengeluarkan pedang pendek dari liontin dan memegangnya dengan kedua tangannya.
Untung saja tempat bertarung ini cukup luas sehingga ia bisa bergerak dengan bebas disini. Sekarang ia tidak akan bertarung menggunakan taktik yang sama seperti saat melawan babi hutan sebelumnya karena gerakan monster ini lebih lincah. Monster itu terus mengejarnya tanpa henti, tapi saat monster itu lelah ia akan terdiam selama lima detik dan saat itulah Allen akan menyerangnya bertubi-tubi dengan pedangnya. Monster itu tidak menyerang balik saat diserang, ia hanya terdiam membatu. Tapi setelah lima detik berlangsung monster itu akan kembali menyerang dengan cara berlari mengejar Allen, walau gerakannya lebih lincah dari babi hutan Allen dapat berlari lebih kencang dari monster itu, inilah yang menyebabkan ia tetap aman saat melawan monster tersebut.
Allen sudah berkali-kali menyerang monster itu dengan pedangnya, akan tetapi monster itu masih tetap kokoh berdiri. Saat monster itu berhenti menyerang Allen masih tetap mengayunkan pedangnya ke tubuh monster itu, hingga saat lima detik berlalu monster itu tiba-tiba mengeluarkan suara geraman yang lebih keras dari sebelumnya, Allen merasa terkejut dan segera menjauhkan diri dari monster itu. Tapi kali ini monster itu tidak berlari kearahnya, monster itu hanya terdiam memandanginya dari kejauhan. Lalu monster itu memasukan ekornya kedalam tanah, Allen tidak mengerti apa yang akan dilakukan. Tiba-tiba dari tanah didepan monster itu muncul dua tumbuhan merambat yang ujungnya runcing, tumbuhan merambat itu meluncur dengan cepat menuju kearahnya, ia tidak bisa melihat gerak tumbuhan merambat itu karena terlalu cepat. Tumbuhan merambat itu mengenai tubuhnya karena tidak sempat menghindar, ujungnya yang runcing menembus tubuhnya dan terasa sangat sakit. Tapi Allen tidak terluka sama sekali, sama seperti saat ia mengenai tubuh babi hutan dan monster ini dengan pedangnya, tubuh mereka hanya tergores kemudian goresannya menghilang dan tidak ada luka sama sekali pada tubuhnya. Allen tidak merasa heran lagi dengan hal aneh ini karena ini hanyalah dunia fantasi. Tumbuhan merambat itu kembali menuju kearah monster itu dan masuk ke dalam tanah. Setelah tumbuhan merambat menghilang kini monster aneh itu mengeluarkan ekornya yang tadi dimasukan ke dalam tanah. Dari serangan monster itu hit point milik Allen berkurang tidak terlalu banyak.
Setelah melakukan serangan tadi, kini monster itu menggulungkan tubuhnya seperti roda. Tubuh monster itu berputar begitu cepat yang mengarah menuju tempat Allen berada. Untung saja ia bisa menghindar karena jaraknya yang jauh. Monster itu tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga terus berputar menuju kearah depan, hingga saat tubuhnya menabrak pepohonan monster itu langsung terlentang ditanah. Saat terlentang monster itu tidak dapat membalikan tubuhnya seperti semula, ia terus menggerakan tubuhnya agar dapat berbalik, sama seperti seekor kecoa yang mencoba membalikan tubuhnya saat terlentang. Melihat momen ini Allen segera memanfaatkannya untuk menyerang tubuh monster itu. Ia mengayunkan pedangnya berkali-kali dengan sekuat tenaga ke tubuh monster itu, namun monster tersebut sangatlah kuat, setelah diserang berkali-kali monster aneh itu belum juga bisa dikalahkan dan ia masih terus menggerakan tubuhnya untuk bisa membalikan tubuhnya sambil mengeluarkan suara geraman pelan. Hingga saat monster itu bisa membalikan tubuhnya Allen segera berlari agar bisa menjaga jarak dengannya. Monster itu kembali menggeram dengan keras, ia kembali memsukan ekornya kedalam tanah dan keluarlah tanaman merambat dari dalam tanah yang segera meluncur kearah Allen. Namun kali ini serangannya lebih lambat dari sebelumnya, Allen dapat menangkisnya dengan cara memotong bagian tajam dari tumbuhan merambat itu menggunakan pedang pendeknya. Serangan monster aneh itupun gagal, itu membuatnya tampak marah dan kembali menggeram. Dengan cepat monster itu menggulungkan tubuhnya seperti roda dan berputar dengan cepat menuju kearah Allen berada, namun sayang sekali monster itu gagal lagi mendaratkan serangannya pada Allen, ia dapat menghindar dengan cepat. Sama seperti sebelumnya monster itu terlentang saat menabrak pepohonan karena tidak bisa mengendalikan diri. Ini adalah momen yang paling ditunggu oleh Allen, ia segera berlari menuju kesana dan langsung membabi buta monster itu. Saat monster itu bisa kembali berdiri Allen segera berlari untuk menjauh. Monster itu kembali menggeram namun sekarang sangat keras hingga membuat Allen menutup telinganya dan membuat burung-burung disekitar berterbangan. Sekarang monster itu tidak memasukan ekornya ke dalam tanah melainkan mengangkatnya dan memekarkan bunga yang ada pada ujung ekornya yang semula kuncup, bunga itu terlihat sedang menyerap cahaya matahari menuju kearahnya, terlihat cahaya-cahaya kecil menuju ke bunga yang ada di ekornya itu, Allen tidak tau apa yang dilakukanya tapi itu terlihat berbahaya. Monster itu kembali menguncupkan bunga setelah selesai menyerap cahaya. Allen tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi sekarang ia sudah dalam posisi siap menyerang. Monster aneh itu membuka mulutnya dan mengeluarkan gas berwarna ungu yang terus menyebar di udara, dalam beberapa hitungan detik saja area disekitarnya sudah dipenuhi oleh gas berwarna ungu tersebut. Allen tidak dapat menghindar dari serangan tersebut karena gas itu sudah menyebar kemana-mana, hidungnya terasa sakit setelah menghirup gas tersebut tapi rasa sakitnya segera hilang hanya dalam beberapa detik. Setelah beberapa detik tempat yang tadi dipenuhi oleh gas berwarna ungu kini kembali seperti semula dengan cepat, tidak ada lagi gas yang memenuhi wilayah tersebut. Tapi setelah gas itu menghilang kepala Allen terasa sakit, rasa sakitnya sama seperti saat dulu ia selesai memakan kentang yang beracun. Dengan rasa cemas ia segera memunculkan layar hologram didepannya dan dugaannya benar, saat melihat ke ikon tubuh manusia yang semula berwarna kelabu kini berubah menjadi ungu dan juga hit pointnya berkurang sedikit demi sedikit. Ia mulai panik karena tidak ingin mengulangi perjalanan yang melelahkan ini dari tempat awal. Tapi ia ingat kembali bahwa dirinya memiliki beri manis yang dapat menghilangkan keracunan, ia segera mengeluarkan beri itu dan memakannya. Ia awalnya ragu kalau beri itu bisa menghilangkan keracunan, tapi saat melihat layar hologram ia terkejut melihat ikon tubuh manusia kembali menjadi warna kelabu serta rasa sakit kepalanya hilang seketika. Hit pointnya juga yang tadinya tinggal setengah kini sudah bertambah walau tidak terlalu banyak, melihat hal itu ia segera memakan beberapa beri untuk memulihkan tubuhnya dan kini hit pointya sudah penuh kembali. Monster itu masih diam di posisi yang sama tapi sekarang monster itu kembali mengangkat ekornya dan memekarkan bunga untuk menyerap cahaya. Allen dari kejauhan sudah menyiapkan diri untuk serangan berikutnya, ia tidak merasa takut karena persediaan beri manisnya masih banyak. Namun dugaannya salah, monster itu membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan gas beracun melainkan menembakan bola cahaya yang berwarna kehijauan. Allen terkejut dan segera menghindari bola cahaya itu yang mengarah pada dirinya, ia dengan cepat bergerak kearah kanan untuk menghindari serangan monster itu, namun bola cahaya itu terus bergerak mengikuti dirinya, Allen berlari dengan sekuat tenaga namun bola cahaya itu terus mengikutinya dari belakang. Sayang sekali bola cahaya itu bergerak lebih cepat dari dirinya, bola cahaya itu mengenai punggungnya dan langsung meledak, seketika Allen terlempar ke depan karena ledakan itu. Ia langsung memunculkan layar hologram untuk mengetahui berapa serangan yang ia terima, ia terkejut saat melihat hit pointnya yang tadinya penuh sekarang hanya tersisa setengah, andai saja tadi ia tidak memakan beberapa beri untuk memulihkan tubuhnya pasti saat ini ia sudah mati dan kembali lagi ke tempat awal dan mengulangi perjalanannya. Melihat hal itu ia segera memakan beberapa beri manis lagi untuk memulihkan tubuhnya sekaligus berjaga-jaga pada serangan berikutnya yang mungkin jauh lebih berbahaya. Kini monster itu kembali mengangkat ekornya dan memekarkan bunga yang ada di ujungnya. Sekarang Allen berpikir untuk menyerang monster itu saat sedang menyerap cahaya, karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan cahaya dan mengeluarkan serangan. Ia segera berlari menuju monster itu berada, untung saja monster itu hanya fokus untuk menyerap cahaya dan menghiraukan apa pun yang berada di sekitarnya termasuk Allen yang ingin menyerang monster tersebut. Ia langsung menyerang tubuh monster itu dengan pedangnya saat sampai disana. Monster ini sangat kuat, serangan membabi buta yang diberikan oleh Allen masih belum bisa membuatnya kalah. Hingga saat monster itu berhenti menyerap cahaya dan bersiap mengeluarkan serangan Allen dengan sekuat tenaga mengayunkan pedangnya ke tubuh monster aneh itu, serangannya membuat monster itu roboh ke tanah namun tidak menghilang. Allen beranggapan monster itu masih belum kalah, ia pun kembali menyerang monster yang sudah tak berdaya. Hingga akhirnya usahanya berhasil untuk mengalahkan monster tersebut, tubuh monster itu berubah menjadi butiran kecil bercahaya yang langsung menuju ke liontin miliknya. Allen segera merebahkan tubuhnya ke tanah untuk melepaskan lelah, ia bahagia karena bisa mengalahkan monster yang mengerikan itu. Dalam posisi yang masih terlentang ia langsung memunculkan layar hologram di hadapannya, dari hasil mengalahkan monster itu ia mendapatkan enam buah sisik yang berwarna hijau, kulit monster yang bersisik dan juga bunga berwarna merah yang berada pada ekor monster itu, ia tidak mendapat benda yang terlihat bisa dimakan. Nama monster itu adalah Floralizard, terlihat pada benda-benda yang ia dapatkan.

Seperti dugaannya ternyata kota sudah semakin dekat. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat ujung dari pepohonan. Allen segera berlari dengan hati yang senang, dan kini ia sudah berada di tengah-tengah pertigaan jalan. Didepannya ia melihat hamparan perkebunan yang sangat luas yang ditumbuhi berbagai macam tanaman musim panas seperti tomat, bawang, jagung, semangka dan masih banyak lagi tanaman lainnya, ia juga melihat beberapa petani yang sedang bekerja mengurus kebunnya. Saat menoleh ke arah kiri ia melihat sebuah kota yang jaraknya lumayan jauh, rasa senangnya hilang karena dia harus berjalan lagi menuju kesana. Tapi ia beruntung karena diberi tumpangan oleh seorang petani yang sedang membawa jerami menggunakan gerobak kuda, ia duduk dibelakang sambil bersandar di tumpukan jerami dan memandangi lagit biru yang cerah. Ia berpikir mungkin akan merindukan petualangannya di hutan, berjalan melewati pepohonan yang hijau dan mendengarkan suara jangkrik saat malam serta suara cicada saat siang hari. Tapi itu semua tidak terlalu penting baginya, sekarang ia merasa bisa tinggal dengan aman di kota. 

No comments:

Post a Comment